Written by John German Seran at Thursday, 09 April 2009 (571 hits) Seorang Imam misionaris yang baru kembali dari tanah misi di sebuah pedalaman mensheringkan pengalaman misinya. Konon daerah itu dihuni oleh sekelompok kecil saja umat Katolik sementara sisanya adalah penganut agama asli. Suatu ketika seorang umat meninggal dunia dan dikuburkan sebagaimana layaknya pengikut Kristus.
Setelah tiga hari dikuburkan, sekelompok besar orang menyerbu ke pastoran. Mereka adalah para penganut agama asli setempat. Mereka menuntut agar kuburan orang trsebut dibongkar. Mereka ingin membuktikan ajaran Katolik bahwa setiap orang yang telah menjadi Katolik akan bangkit dari kubur pada hari ke tiga. Beberapa tokoh umat yang sudah berkumpul di Patoran meminta agar sang pastor jangan keluar dan jangan melayani tuntutan mereka. Apalagi mereka dating lengkap dengan segala perlengkapan perang. Sang pastor cemas, bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Tetapi karena massa itu terus memaksa, dan lagi, pikirnya tak ada gunanya menghindar, sebab massa akan memaksa masuk dan membunuhnya juga, maka sang pastor memutuskan untuk menghadapinya. Ia masuk ke dalam kamar, berdoa sejenak, mengambil salib misinya dan sambil memeluk salib itu ia keluar menemui massa yang sudah semakin berang. Dengan ditemani tokoh-tokoh umat yang hadir, sang pastor menuju kuburan bersama para penuntut. Ia mengajak mereka untuk berdoa lalu memerintahkan supaya kuburan itu dibuka. Dan apa yang terjadi, sungguh di luar dugaan semua orang. Makam itu ternyata kosong. Puji TUhan. Dan sejak saat itu, semua penduduk di daerah itu menyerahkan diri untuk dibaptis. Bacaan injil pada Misa hari Senin setelah Minggu Paskah (kerap disebut Paskah ke dua), berkisah tentang fenomena makam kosong. Penginjil Matius mengisahkan bahwa imam-imam kepala dan orang-orang Farisi menghadap Pilatus dan berkata, “Tuan, kami ingat bahwa si penyesat itu sewaktu hidupnya berkata: sesudah tiga hari Aku akan bangkit. Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ke tiga; jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin dating untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama” (Mat 27:62-66). Pilatus lalu memberikan kepada mereka penjaga-penjaga, yang memang menjaga makam itu sampai hari yang ke tiga. Dan ketika menemukan bahwa makam itu telah kosong, mereka pergi memberitahukannya kepada imam-imam kepala. Imam-imam kepala itu kemudian berunding dengan tua-tua, mereka memutuskan utnuk memberikan sejumlah besar uang, juga jaminan ‘keselamatan’ kepada serdadu-serdadu itu, supaya penjaga-penjaga itu mengatakan bahwa para murid Yesuslah yang datang ke kubur saat penjaga-penjaga itu tidur dan mencuri jenazah Yesus (Mat 28:11-15). Dua kisah di atas menghadirkan kepada kita sebuah fenomena yang sama, yakni fenomena ‘makam kosong’. Hanya saja, akibat yang ditimbulkan oleh fenomena itu berbeda. Dalam kisah pertama, pengalaman misi sang misionaris, fenomena makam kosong, membawa dampak positif bagi perkembangan iman sang misionaris, sekelompok kecil umat Alah dan juga para penganut agama asli di pedamalaman itu. Fenomena itu semakin memperkokoh cinta dan kesetiaan sang misionaris pada panggilannya. Kawanan kecil itu makin bertumbuh dalam iman. Dan para penganut agama asli akhirnya menyerahkan diri untuk dibaptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Hal ini sangat berbeda dengan akibat yang ditimbulkan oleh fenomena makam kosong dalam kisah Matius. Fenomena makam kosong bagi imam-imam kepala, tua-tua dan ahli-ahli taurat adalah sebuah ‘tamparan’ yang menelanjangi mereka. Dia yang mereka tuduh sebagai penyesat ternyata telah bangkit dari kubur-Nya. Dia yang mereka anggap pembangkang dan dikutuk Allah, ternyata ‘diselamatkan’ (baca: kurban-Nya diterima) oleh Allah. Menurut pandangan orang Yahudi kala itu, orang yang mengalami segala kemalangan, apalagi kematian, adalah orang yang dikutuk Allah. Karena itu kebangkitan Yesus jelas-jelas menelanjangi mereka. Apa yang ahrus mereka katakana kepada para pengikutnya jika mereka ditanya soal kebangkitan Yesus? Bagaimana mereka harus mempertanggung jawabkan ‘makam kosong’ Yesus kepada kalayak banak? Para imam kepala dan ahli-ahli Taurat rupanya tidak kehabisan akal. Iblis memang selalu menemukan tameng untuk membela diri. Matius mencatat, bagaimana imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat bersepakat untuk menciptakan sebuah ‘omong kosong’ sebagai tameng untuk menutupi fakta makam kosong. Mereka menciptakan kebohongan, dosa paling tua yang sudah ada sejak kejatuhan manusia pertama. Ingat, ular membohongi Hawa untuk makan buah terlarang, dengan sebuah iming-iming ‘omong kosong’, bahwa dengan makan buah itu ia akan menjadi sama seperti Allah. Imam-imam Kepala memberikan sejumlah besar uang kepada para penjaga kubur untuk menyebarkan ‘omong kosong’, bahwa murid-murid Yesuslah yang mencuri jenazah Yesus, ketika mereka tidur. Dan menurut catatan Matius, ceritera itu berkembang dan tersiar di kalangan masyarakat Yahudi sampai saat ini. Para pembaca yang budiman, ‘omong kosong’ adalah dosa paling tua. Dan ternyata ‘omong kosong’ tetap menjadi dosa yang tetap ‘digemari’ orang. Omong kosong kerap kita jadikan sebagai tameng pembelaan diri, sebagai alat pembenaran diri, sebagai batu loncatan untuk mencapai keinginan semu kita. Kita tidak mau dipersalahkan, maka kita menciptakan omong kosong (baca: berbohong). Kita ingin memperoleh sesuatu, tetapi tidak bisa kita capai lewat jalan yang baik, maka kita menciptakan ‘omong kosong’ (bisa memfitnah orang lain, menciptakan data-data palsu, dan lain-lain) agar bisa mencapainya dengan mudah. Inilah dosa omong kosong. Paskah adalah perayaan iman untuk mengenangkan sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Secara sederhana dapat dikatakan, bahwa Kristus menanggung sengsara, dan kemudian wafat di salib karena dosa-dosa kita, termasuk dosa ‘omong kosong’. Ia mengalami semuanya itu seolah-olah seorang terkutuk karena solidaritas Allah dengan kita yang terkutuk. Tetapi solidaritas Allah tidak hana berhenti di situ. Dosa (maut) tidak bisa menahan DIA. Maut tidak puna taring dan sengat maut tidak bedaya apa-apa di hadapan Kristus. IA bangkit. Makam-Nya Kosong. Inilah inti keselamatan kita. Ini jugalah yang menjadi pokok kerygma atau pewartaan kita. Dan sekalipun dosa beusaha menutupi cahaya kemuliaan-Nya, Ia tetap bersinar. Walaupun imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat telah menciptakan omong kosong untuk menutupi realitas makam kosong, gebiar halleluya tetap bergema sampai ke segala ujung bumi. Inilah kuasa Paskah Kristus, kuasa makam kosong. Makam kosong, bukan omong kosong. Kebangkitan, bukan kematian. Keselamatan, bukan kebinasaan, kemuliaan, bukan kesuraman. Semoga kita yang telah menguburkan dosa-dosa kita selama masa pra-paskah bisa mengalami kemuliaan makam kosong, bukan omong kosong.***
Only registered users can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.3 |