cpanel

Tips

Tips Mencari Artikel
Untuk memudahkan mencari artikel, anda tinggal klik pada Search lalu masukkan kata apa yang dicari. Contoh kata "WFX 47" maka semua artikel di WFX edisi 47 akan muncul. Atau contoh lain kata "Doa" maka semua isi yang ada kaitannya dengan Doa akan muncul. Selamat mencoba
 
» Home arrow Beranda Iman arrow Sengsara, Wafat dan Kebangkitan Yesus
Friday, 12 March 2010
Sengsara, Wafat dan Kebangkitan Yesus PDF Print E-mail
Written by John German Seran at Thursday, 09 April 2009 (694 hits)

 “… Aku percaya akan Yesus Kristus, Putera-Nya yang Tunggal Tuhan kita, yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria, Yang menderita sengsara, wafat dan dimakamkan, Yang turun ke tempat penantian, pada hari ke tiga bangkit dari antara orang mati, yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Alla Bapa yang Mahakuasa, dari situ Ia akan datang mengadili orang hidup dan mati…”

Demikian pengakuan iman Katolik yang resmi kepada Yesus Kristus menurut Konsili Nicea. Sebuah pengakuan iman yang harus diakui oleh setiap orang yang mau menjadi Katolik lewat pembaptisan, dan selalu dibaharuinya ketika ia mendoakan Aku Percaya. Begitulah setiap saat ketika kita mendoakan Aku Percaya, kita membaharui iman kita akan Yesus Kristus. Pertanyaannya, apakah kita sungguh memahami apa yang kita ungkapkan? Dalam rangka Paskah kali ini, mari kita sejenak menyelami makna credo iman ini.

Catatan Keempat Injil

Keempat Penginjil melaporkan secara berbeda-beda peristiwa Yesus Kristus, termasuk sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Hal ini sering menimbulkan pertanyaan, “mana yang benar?” Pertanyaan ini dapat dijawab, bahwa injil sebenarnya tidak bermaksud melaporkan kronologis hidup, sabda dan karya Yesus Kristus. Tetapi bahwa injil merupakan refleksi iman para murid atas peristiwa Yesus Kristus, Sang Guru, seperti halnya sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

Markus (15:15) menyebutkan bahwa pada akhir pengadilan di hadapan Pilatus, Barabas dibebaskan, tetapi Yesus disesah, lalu diserahkannya untuk disalibkan (lihat juga Mat 27:26). Yesus didera serta dimahkotai duri, dan sebenarnya ini merupakan awal dari penyaliban-Nya. Lukas (23:25) berkata: “Yesus diserahkan kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya” (lih. Yoh 19:16). Lalu mulailah jalan salib Tuhan, yang oleh setiap pengarang injil dikisahkan secara berbeda. Injil Yohanes (19:16-17) sangat singkat. Injil Sinoptik menyebut Simon dari Kirene (Mark 15:21; Luk 23:26; Mat 27:32). Dan Lukas secara khusus menambahkan perjumpaan dengan wanita-wanita Yerusalem (23:27-31).

Begitu pula kisah penyaliban. Pertama-tama dijelaskan bahwa peristiwa itu terjadi di Golgota (Markus 15:22-26). Matius dan Markus menyebut ‘Anggur dan Empedu”, yang dimaksudkan sebagai ‘obat penenang’, tetapi ditolak oleh Yesus. Lukas menyebut permohonan ampun untuk mereka yang menyalibkan Yesus (Luk 23:24). Semua penginjil mencatat pembagian pakaian Yesus, tetapi hanya Yohanes yang menambahkan bahwa jubah Yesus tidak dibagi-bagikan, melainkan diundi. Keempat penginjil menyebut tulisan di atas salib, yang menurut Yohanes 19:20-22 dipersoalkan oleh orang-orang Yahudi: “Jangan menulis: Raja orang Yahudi, tetapi: Ia berkata, Aku ini raja orang Yahudi”.

Tentang dua penjahat yang disalibkan bersama Yesus, dikatakan juga dalam semua injil, tetapi hanya Lukas (23:39-43) yang menyebutkan pengampunan bagi penjahat yang bertobat. Demikian juga halnya olok-olokan yang diterima Yesus dicatat dalam semua Injil, kecuali Yohanes. Semua pengarang injil menyebutkan bahwa Yesus haus. Tetapi hanya Yohanes yang mencatat adegan penyerahan ibu-Nya kepada murid-Nya dan penyerahan murid yang dikasihi-Nya kepada Maria.

Tentang wafat Yesus, Sinoptik mencatat, bahwa wafat Yesus disertai kegelapan, bahwa tabut Bait Suci terbelah menjadi dua, serta tanda-tanda lainnya, seperti gempa bumi dan pengakuan iman kepala pasukan.  Sementara tentang sabda terakhir Yesus, para pengarang injil merumuskannya secara sangat berbeda. Menurut Mat 27:46 dan Mark 25:34, Yesus berkata, “Eloi, Eloi, lama sabakhtani? Yang berarti, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (bdk. Mzm 22:2). Tetapi dalam Luk 23:46 tertulis, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Ku serahkan nyawa-Ku”. Sementara dalam Yohanes (19:30) tertulis, “Sudah selesai”.

Amat jelas di sini bahwa injil-injil tidak bermaksud melaporkan sabda Yesus. Rumusan Yohanes tentu harus dihubungkan dengan Yoh 4:34, yang berbunyi: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya”. Salib merupakan puncak ketaatan Yesus kepada Bapa. Hal yang sama juga mau dinyatakan oleh injil-injil lain, yang mengutip Mzm 22, bahwa “Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas” (ayat 25).

 

Solidaritas Allah Dengan Manusia dan

Pengangkatan Manusia Bersama Yesus

Dalam 1 Korintus 15:3-5 terdapat suatu rumusan iman kristiani yang singkat namun padat, yang kadang disebut sebagai ringkasan atau mini Injil.

“Bahwa Kristus mati karena dosa-dosa kita,

sesuai dengan Kitab-kitab Suci

Bahwa Ia dimakamkan,

Bahwa Ia dibangkitkan pada hari yang ke tiga,

Sesuai dengan Kitab-kitab Suci;

Bahwa Ia tampak kepada Kefas,

          Lalu kepada kedua belas…”

Pokok dari Injil kecil ini adalah empat peristiwa besar Yesus Kristus, yaitu kematian, pemakaman, kebangkitan dan penampakan. Yang mengesankan adalah bahwa hanya mengenai kematian dan kebangkitan dikatakan “sesuai dengan Kitab-kitab Suci”. Paulus tidak menyebut ‘sesuai dengan Kitab Suci’ lalu mengutip ayat tertentu. Tetapi ia menyebutkan ‘sesuai dengan Kitab-kitab Suci’. Dengan demikian yang ia maksudkan adalah seluruh Kitab Suci. Maka ‘sesuai dengan Kitab-kitab Suci’ sama artinya dengan sesuai dengan karya atau rencana keselamatan Allah. Khususnya mengenai wafat dan kebangkitan Yesus Paulus mau mengatakan bahwa di dalamnya karya keselamatan Allah terlaksana.

Paulus juga menyebutkan bahwa Kristus mati ‘karena dosa-dosa kita’. Dengan kata-kata ini Paulus mau katakan, bahwa wafat Kristus merupakan kurban untuk melunasi dosa-dosa kita. Dalam Roma 8:3, ia menulis, “Allah mengutus Anak-Nya dalam daging karena dosa.” Dalam syahadat panjang dirumuskan, “Ia turun dari surge untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita”. Dalam cara lain ia merumuskan, “Kristus Yesus, walaupun serupa dengan Allah, tidak mengaanggap kesetaraan dengan Alah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan dirinya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:6-8).

Kristus mengalami maut karena ‘senasib’ dengan manusia berdosa. Dalam arti inilah Ia wafat ‘karena dosa-dosa kita’, yakni karena senasib dengan orang-orang harus mati ‘karena dosa-dosa’. Kristus mau mengalami nasib itu karena Ia mengasihi kita dan menyerahkan diri untuk kita (bdk. Gal 2:20). Tuhan Yesus Kristus menyerahkan diri karena dosa-dosa kita, guna melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini (Gal 1:4). Sebab, kalau Kristus senasib dengan kita dalam kematian, maka kita menjadi sehidup dengan Dia dalam kebangkitan. Solidaritas Kristus dengan kita memang mulai dengan kesatuan-Nya dengan kita dalam kematian, tetapi tertuju pada kesatuan kita dengan Kristus dalam kehidupan.

Melalui kebangkitan Yesus, Allah mewahyukan, bahwa Yesus hidup. Dan hidup Yesus yang mulia mempunyai arti keselamatan bagi manusia. Dalam Roma 1:4 Paulus menulis: “Oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, (Yesus) dinyatakan (sebagai) Anak Allah yang berkuasa”. Hal ini berarti bahwa kebangkitan Yesus merupakan bukti bahwa Ia diterima oleh Allah. Ini dapat membalikkan pandangan para murid terhadap Yesus sendiri dan wafat-Nya di salib, yang tampak seolah-olah sebagai penolakan Allah terhadap Yesus. Bagi orang Yahudi zaman Yesus, segala bentuk kemalangan di dunia iniadalah hukuman atas dosa (bdk. Yoh 9:1-2), apalagi kematian. Maka dengan kebangkitan-Nya menjadi jelas bahwa Yesus bukan pendosa, jadi wafat-Nya juga bukan hukuman untuk dosa. Lalu untuk apa Ia mati?

Dasar wafat Kristus adalah solidaritas dengan orag berdosa. Sekarang, melalui kebangkitan-Nya, solidaritas itu dapat dibalik. Kalau Kristus senasib dengan kita sampai pada kematian, maka kita tetap bersatu dengan Dia dalam kebangkitan. Karena Kristus telah terlanjur bersatu dengan kita, maka dengan menarik Kristus, Allah menarik kita semua bersama Kristus. Paulus merumuskannya seperti berikut: “Kristus dibangkitkan dari antara orang mati sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1Kor 15:20). Jadi, “Kristus sebagai buah sulung, sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya” (ayat 23). Karena Kristus senasib dengan umat manusia, maka yang diterima Allah bukan hanya Kristus, melainkan semua manusia bersama dengan Dia.

Demikianlah, melalui wafat Kristus, Allah telah menunjukkan solidaritasnya dengan manusia yang berdosa. Dan melalaui kebangkitan Kristus, semua manusia yang percaya kepadanya diangkat kepada kemuliaan bersama dengan Kristus. Inilah inti pokok keselamatan kita.**** (Referensi tulisan ini adalah buku IMAN KATOLIK, yang diterbitkan oleh KWI).

 




Be first to comment this article
RSS comments

Only registered users can write comments.
Please login or register.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.3

 
< Prev   Next >