Written by John German Seran at Sunday, 10 May 2009 (561 hits) “Surga di telapak kaki ibu, nafka di bahu ayah”. Begitulah kata pepatah klasik yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Pepatah ini sendiri mau mengafirmasi peran penting seorang ayah dan ibu bagi kehidupan ini. Ibu adalah dia yang mengandung, melahirkan, menyusui, dan seterusnya. Ayah adalah dia yang membanting tulang, berpeluh di bawah terik mentari dan guyuran hujan demi nafkah bagi kelangsungan hidup ini. Itulah ibu dan ayah.
Suatu waktu di pertengahan tahun silam, saya terlibat sebuah obrolan lepas dengan seorang sahabat dalam pelayaran Tenau – Benoa dengan KM AWU. Dia berkomentar soal peribahasa ‘surga di telapak kaki ibu’. Katanya, “Benar kawan, surga memang ada di telapak kaki ibu, tetapi sekarang banyak ibu yang dengan enteng menginjak-injak surga. Nafkah memang ada di bahu ayah, tetapi banyak ayah yang membuangnya dan tidak mau memikulnya”. Sahabatku itu tidak berkata apa-apa lagi, karena seorang bocah laki-laki keburu menariknya ke dalam, meninggalkanku sendiri di buritan kapal, menatap mentari yang akan terbenam dengan berjuta pertanyaan dan pernyataan seputar komentar sahabat tadi. “Surga di telapak kaki ibu, tetapi banyak ibu yang dengan enteng menginjak-injak surga”. Apakah karena surga terlalu dekat dengan kaki ibu, maka gampang terinjak-injak? Entahlah. Yang jelas ‘surga’ itu terinjak. Banyak ibu yang menggugurkan kandungannya. Banyak ibu yang membuang dan membiarkan anaknya terlantar. Banyak ibu yang tidak peduli dengan kebahagiaan anaknya. Bahkan ada ibu yang tega menjual anaknya. Inilah gambaran ‘surga’ yang terinjak-injak. Surga (baca: kebahagiaan) yang mestinya menjadi milik anak-anak, ternyata harus direnggut secara paksa lewat tindakan-tindakan tidak bermoral dan tidak bertanggung jawab. “Nafkah di bahu ayah, tetapi banyak ayah yang tidak mau memikulnya”. Banyak kasus kehamilan di luar nikah, yang akhirnya meninggalkan kepahitan bagi banyak wanita karena harus menerima kenyataan melahirkan anak ‘tak berayah’. Banyak ayah yang mengeksploitasi tenaga anaknya sendiri dengan dalih ‘membantu orang tua’. Ini adalah fakta-fakta akhirnya melahirkan rasa pesimis akan peran penting figur ayah dan ibu dalam kehidupan ini. Banyak anak akhirnya jauh dari ‘kasih’ dan terjerumus ke dalam hal-hal negatif karena tidak pernah merasakan ‘surga’ di telapak kaki sang ibu. Banyak anak akhirnya terlantar dan tak pernah merasakah ‘surga’ (baca: kebahagiaan), karena tidak pernah menikmati nafkah di bahu sang ayah. Tetapi lepas dari fakta-fakta negatif di atas, ternyata ada juga fakta-fakta positif yang tentu mengafirmasi kebenaran pepatah di atas. Fakta mengatakan bahwa ada banyak ibu yang rela mempertaruhkan hidupnya: jiwa dan raga, bahkan nyawanya sendiri bagi kehidupan dan kebahagiaan sang anak. Ada juga ayah yang membanting tulang tanpa mengenal lelah, tanpa memperhitungkan hujan dan panas demi kebahagiaan anak dan isteri. Akhirnya sunset di tengah samudera itu menghantarkan saya pada sebuah kesimpulan bahwa, papa-mamaku adalah ‘Tuhan Allah’ – ku. Kesimpulan ini tampaknya berlebihan, tetapi bukannya tanpa alasan. Dan saya sengaja memberikan tanda petik pada ‘Tuhan Allah’ dengan maksud bahwa saya tidak menyamakan papa-mamaku dengan Tuhan. Tetapi bahwa ada hal-hal atau sifat-sifat tertentu di dalam diri papa-mamaku yang mencerminkan sifat-sifat Tuhan Allah. Dan sifat-sifat ini, hemat saya, mestinya wajib dimiliki setiap orang tua (papa-mama) Katolik yang sejati. Pertama, kasih. Sebagaimana Allah itu penuh kasih, papa-mama Katolik yang baik harus penuh kasih: kasih satu terhadap yang lain dan kasih terhadap anak-anak yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka dalam perkawinannya. Hubungan yang mereka bangun dan bentuk, yang kemudian dikukuhkan dalam sakramen perkawinan harus berdasarkan cinta yang tulus tanpa paksaan. Maka dalam sakramen perkawinan mereka harus menyatakan kesediaannya yang rela dan bebas untuk meresmikan pernikahan. Ikatan yang telah dibangun atas dasar cinta itu akhirnya berlanjut kepada anak-anak yang kelak dianugerahkan kepada mereka. Kedua, sebagaimana Tuhan Allah itu kekal, begitu jualah papa-mamaku. Sifat kekal Allah itu harus ada juga di dalam diri papa-mamaku. Maka sifat sakramen perkawinan katolik itu adalah monogami dan tak terceraikan. Monogami berarti seseorang hanya boleh menikah dengan satu orang. Tak terceraikan berarti perkawinan yang telah disahkan lewat sakramen perkawinan tidak bisa diceraikan oleh siapapun, kecuali oleh maut. “Yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia” (Matius ……). Implementasinya adalah kesetiaan. “Say no to WIL atau Say no to PIL”. “No selingkuh, no main serong”. Ketiga, Tuhan itu baik dan mencintai kehidupan ini. Ia adalah pencipta kehidupan ini dan menginginkan supaya kehidupan ini berkelanjutan dan terpelihara dengan baik. Karena itu IA menciptakan manusia dan memberkatinya dengan mandat ‘ikut berpartisipasi’ dalam memelihara kehidupan ini. Karena itu sangatlah tidak baik dan alangkah bertentangan dengan kehendak Allah, ketika ibu menginjak-injak surga dan ayah enggan memikul nafkah di bahunya. Akhirnya, Tuhan Allah itu adalah Allah yang setia. Allah yang tidak pernah lupa akan janji-Nya dan yang tidak pernah berpaling dari kasih-Nya. Papa-mamakupun hendaknya menjadi papa-mama yang setia. Papa-mama yang setia pada cinta mereka. Papa-mama yang selalu sabar membimbingku menuju kedewasaan. Papa-mama yang kapan saja, di mana saja dan dalam situasi apa saja, tetap menjadi papa-mamaku. Sehingga lewat papa-mamaku, aku dapat mengenal Tuhan Allahku. Karena Tuhan Allahku tercermin dalam diri papa-mamaku. Ya, papa-mamaku adalah ‘Tuhan Allah’- ku. Semoga.****
Only registered users can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.3 |