cpanel

Tips

Cara menggunakan Shout it!
Pada kolom kanan ada Shout it! Disitu kalian bisa memberikan ucapan / komentar/ salam / SHOUT buat teman yang lain. Cara menggunakannya, kalian musti register dulu. Sesaat setelah register, kalian akan menerima email konfirmasi untuk mengecek apakah benar email kalian. Setelah di setujui (approval) maka keanggotan kalian akan aktif. Silakan login memakai username dan password dan langsung SHOUT IT !! Surprised
 
» Home arrow Beranda Iman arrow SUKA CITA ANAK-ANAK ALLAH
Thursday, 11 March 2010
SUKA CITA ANAK-ANAK ALLAH PDF Print E-mail
Written by John German Seran at Saturday, 06 June 2009 (483 hits)

Ketika merefleksikan tema WFX edisi ini, saya teringat akan sepenggal kalimat, entah dari lagu prefasi atau Doa Syukur Agung sebuah misa, “Sungguh mengagumkan karya penciptaan-Mu, tetapi lebih mengagumkan lagi karya penebusan-Mu”. Penggalan kalimat ini menarik, karena hemat saya merupakan pengakuan absolute atas dua karya Allah yang paling mulia bagi manusia, yakni karya penciptaan dan karya penebusan.

 

Karya Penciptaan

Karya penciptaan adalah karya Tuhan. Dan hanya Tuhanlah yang dapat menciptakan. ”Akulah yang menjadikan bumi, manusia dan hewan yang ada di atas muka bumi dengan kekuatan-Ku yang besar dan lengan-Ku yang terentang” (Yeremia 27:5). Dengan demikian maka sesungguhnya manusia tidak dapat memahami arti penciptaan, sebab segala pengetahuan berdasarkan pengalaman dan manusia tidak mempunyai pengalaman menciptakan sesuatu dalam arti yang sesungguhnya. Tetapi manusia sadar bahwa ia diciptakan dan seluruhnya bergantung pada Tuhan. Maka bagi manusia, memahami penciptaan berarti menyadari bahwa ia makhluk, yang seluruhnya bergantung pada Tuhan sebagai sumber hidupnya.

 

Dalam konteks ini manusia dapat berkata bahwa cirikhas penciptaan ialah bahwa manusia dan dunia seluruhnya diberi hidup oleh Allah. Dan kesadaran ini sekaligus merupakan pengakuan akan tindakan kasih dan perhatian Allah. Sebab dalam penciptaan itu sendiri sebenarnya sudah terkandung pemeliharaan. Allah tidak hanya menciptakan, tetapi juga menyelenggarakan.

 

Khusus mengenai penciptaan manusia, Kitab Suci melukiskannya secara sangat istimewa. Kitab Kejadian yang mengawali seluruh Kitab Suci dengan kisah penciptaan, walauupun mengisahkannya dalam dua versi yang secara kronologis bertolak belakang, toh mengungkapkan satu hal yang sama, bahwa manusia merupakan sentral atau puncak dari segala ciptaan. Pertama, bahwa secara teknis penciptaan manusia berbeda dengan penciptaan alam semesta dan makhluk lain. Bahwa ciptaan lain diciptakan Allah dengan berfirman saja, tetapi manusia diciptakan Allah dengan bekerja. “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita” (Kej 1:26). Pada tempat lain tertulis, “Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya.” (Kej 2:7). Ke dua, bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupanya sendiri (Kej 1:27), dengan suatu tujuan luhur, yaitu berkembang biak dan menguasai seluruh bumi beserta isinya (bdk. Kej 1:28). Ia menciptakan manusia sebagai mitra dialog. Dari kebebasan-Nya yang tak terbatas Ia menciptakan manusia sebagai subjek yang bebas juga, yang otonom, yang berdikari. Ia menciptakan manusia sebagai subjek rahmat. Inilah tindakan Allah yang paling dasariah. Dan yang melandasi atau mendasari semuanya ini, tidak lain adalah KASIH. KASIH yang paling agung, dimana Allah mau ‘berbagi’ gambar dan rupa-Nya dengan ciptaan-Nya.

 

Karya Penebusan

“Sungguh mengagumkan karya penciptaan-Mu, tetapi lebih mengagumkan lagi karya penebusan-Mu”. Ini dapat dimengerti karena bila dalam karya penciptaan Allah mau berbagi gambar dan rupa-Nya dengan manusia, maka dalam karya penebusan Allah tidak hanya berbagi tetapi mau dan dengan rela menyerahkan, bukan hanya gambar dan rupa-Nya, tetapi seluruh diri-Nya bagi manusia. Ia menanggalkan ke-Allahan-Nya dan menjadi sama dengan manusia. Ia menjadikan diri-Nya hina supaya manusia menjadi mulia. Ia memberikan diri-Nya sebagai tebusan untuk  mendapatkan kembali ’gambar dan rupa-Nya’ yang hilang oleh dosa. Dan untuk mendapatkan ini IA harus bersabar, mulai dari mengangkat sekelompok umat menjadi anak-anak-Nya. Ia menuntun mereka melewati jalan yang panjang, berliku-liku, mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, ketika Ia memberikan anak-Nya yang tunggal menjadi tebusan untuk memenangkan bagi-Nya suatu umat Perjanjian Baru yang kekal. Nah, perjalanan yang panjang dan berliku ini yang kiranya dapat kita sebut sebagai proses ”Sonship adoption” (pengangkatan menjadi anak). Kita lihat, Allah menciptakan bagi dia ’MANUSIA’ SEBAGAI ANAK-Nya (bdk. Kej 6:2). Lalu karunia sonship adoption ini hilang ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Ketika itu ia dikutuk dan harus masuk ke dalam sebuah ‘perjuangan’ untuk memperoleh kembali citranya sebagai anak-anak Allah. Perjuangan ini keras, dan Paulus secara filosofis membahasakannya sebagai “rasa sakit bersalin. “Sebab itu kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita, sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita” (Rom 8:22-23).

 

Karunia sulung Roh yang dimaksudkan Paulus kiranya adalah Roh yang melayang-layang di atas permukaan air ketika bumi belum berbentuk, kosong dan gelap gulita.  Roh itu juga  adalah nafas hidup yang dihembuskan Allah ke rongga hidung manusia ketika diciptakan (baca Kej 2:7). Roh yang menjadikan manusia sebagai anak Allah, mitra dialog, subjek bebas yang mampu menjawab panggilan kasih Allah. Karena itu walaupun jatuh ia (manusia) dapat bangkit kembali.  Walaupun berdosa, ia dapat ditebus kembali. Inilah inti suka cita anak-anak Allah. Bahwa dari debu tanah mereka dibentuk dan dihembusi Roh kehidupan. Mereka dipilih dan dipanggil menjadi anak-anak Allah (baca sejarah Israel; bdk. Roma 9:1-29). Ketika mereka jatuh ke tangan bangsa asing, Allah turun tangan membebaskan mereka. Dan ketika dosa makin kuat mencengkeram mereka, Allah memberikan Anakl Tunggal-Nya sebagai tebusan, satu untuk selamanya. Karena itu tidak ada kata lain yang pas selain sukacita. Sukacita orang-orang tebusan. Ya, suka cita anak-anak Allah. ”Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah Anak-Anak Allah” (1 Yoh 3:1). Dan ”Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya” (1 Yoh 3:10).****




Be first to comment this article
RSS comments

Only registered users can write comments.
Please login or register.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.3

 
< Prev   Next >