cpanel

Tips

Tips Mencari Artikel
Untuk memudahkan mencari artikel, anda tinggal klik pada Search lalu masukkan kata apa yang dicari. Contoh kata "WFX 47" maka semua artikel di WFX edisi 47 akan muncul. Atau contoh lain kata "Doa" maka semua isi yang ada kaitannya dengan Doa akan muncul. Selamat mencoba
 
» Home arrow Beranda Iman arrow Benih Itu Firman Allah
Monday, 06 February 2012
Benih Itu Firman Allah PDF Print E-mail
Written by John German Seran at Thursday, 09 July 2009 (1045 hits)

ImageKonon di sebuah pulau terpencil, hiduplah sekelompok nelayan. Di antaranya terdapat tiga orang pria yang pernah menerima kabar gembira tentang Yesus Kristus. Mereka pernah dibaptis menurut tata cara Gereja Katolik. Dan dengan demikian mereka adalah pengikut Kristus, umat Katolik yang syah.  Namun sangatlah memprihatinkan, bahwa setelah menerima kabar gembira itu dan setelah dibaptis dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, mereka dibiarkan terlantar di Pulau kecil itu tanpa pelayanan dan pendampingan iman lebih lanjut.

Suatu ketika, setelah sekian tahun mereka hidup dalam keadaan demikian, seorang uskup yang wilayahnya meliputi pulau kecil itu mendengar kabar tentang kehidupan kawanan kecil itu. Ia memutuskan untuk mengunjungi mereka. Kunjungan itupun terjadi. Uskup menanyakan kepada mereka tentang sakramen-sakramen apa saja yang pernah mereka terima, juga tentang pengetahuan iman apa saja yang telah mereka peroleh. Dan uskup sangat terkejut ketika mengetahui bahwa mereka hanya menerima sakramen permandian dari seorang misionaris yang kebetulan terdampar di pulau itu beberapa puluh tahun yang lalu. Bahwa peristiwa itu hanya didahului sebuah percakapan semalam dengan sang misionaris tentang Allah Bapa yang Mahabaik, yang menciptakan manusia dan alam semesta, dan tentang  seorang tokoh besar dalam sejarah, Yesus Kristus, seorang tukang kayu dari sebuah desa kecil di Yahudi, yang ternyata adalah Anak Allah. Yesus Kristus itu datang ke dunia untuk menebus dosa semua umat manusia. Bapa dan Putera itu memiliki Roh yang Kudus, yang dikaruniakan kepada manusia sebagai pendamping, penghibur, penguat dan sebagainya. Hanya itu kabar gembira yang mereka terima. “Lalu bagaimana kamu berdoa?”, Tanya sang uskup. “Kalau kami berdoa, kami hanya katakan seperti ini, “Kamu tiga, kami tiga; kamu di atas, kami di bawah.” “Kalau begitu saya tidak akan mengajarkan doa lain lagi kepada kamu, tetaplah berdoa seperti itu”, kata Uskup. “Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku; ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yes 55:11). Petikan nubuat Yesaya ini memperlihatkan bahwa Sabda Tuhan itu hidup. Bahwa sabda Tuhan itu, seperti benih, memiliki daya untuk bertumbuh, berkembang dan menghasilkan buah. Ia aktif dan kreatif. Segala yang dilakukanya tidak sia-sia, tetapi berhasil dan berbuah.  Dalam ilustrasi di atas kelihatan bagaimana Sabda Tuhan itu mempunyai daya luar biasa untuk  bertumbuh dan berkembang. Sabda yang ditaburkan, entah kapan dan oleh siapa, nyatanya bertumbuh dan bertahan hidup tanpa ‘penyiraman dan pemupukan lanjutan oleh siapapun’. Itulah sabda Tuhan, ia “seperti orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas, dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah…” (Mrk 4:26-28). Kendatipun demikian, pertumbuhan Sabda itu (seperti halnya benih) bergantung juga pada ‘tanah’, tempat ia ditaburkan. Dalam perumpamaan tentang seorang penabur (Luk 8:4-15), Yesus menyebutkan beberapa jenis tanah: tanah pinggir jalan, tanah berbatu, tanah bersemak duri, dan tanah yang baik. Benih yang jatuh di pinggir jalan akan diinjak-injak orang dan dimakan burung-burung. Benih yang jatuh di tanah berbatu akan tumbuh tetapi akan segera layu dan kering. Benih yang jatuh di tanah bersemak duri akan dihimpit hingga mati. Sedangkan benih yang jatuh di tanah yang baik akan bertumbuh dan berbuah seratus kali lipat. Benih itu ialah firman Allah. Tanah tempat benih iu jatuh adalah personifikasi hati orang yang menerima firman itu. Benih yang jatuh di penggir jalan adalah orang yang telah mendengar firman itu, tetapi datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Mengapa Iblis bisa mengambil firman itu dari dalam hati mereka? Pinggir jalan adalah simbol ketiadaan benteng atau perisai diri. Tanah pinggir jalan tidak berpagar, tempat lalu lalang bagi siapa saja.  Hati orang seperti ini akan mudah tergoda oleh bujukan Iblis, karena tidak memiliki benteng diri. Sehingga walaupun berkali-kali ditaburkan benih firman Allah, benih itu akan dimakan diinjak-injak orang dan dimakan burung-burung liar. Tanah berbatu adalah personifikasi hati yang keras. Hati seperti ini memiliki sangat sedikit ruang bagi firman Allah. Karena itu firman yang ditaburkan di dalam hati seperti ini tidak dapat bertahan. Firman itu memang bertumbuh, tetapi akan segera mati bila datang percobaan. Tipe orang seperti ini akan percaya kepada firman yang mereka terima. Tetapi kepercayaan mereka tidak berakar, karena kerasnya hati mereka. Dan karena iman mereka tidak berakar maka ketika datang percobaan mereka akan murtad.  Tanah bersemak duri adalah personifikasi hati orang yang dipenuhi kekuatiran, kecemasan dan kekayaan serta kenikmatan hidup. Mereka ini akan menerima firman yang ditaburkan dan percaya. Tetapi kekuatiran, kecemasan dan keterikatan hatinya pada kekayaan dan kenikmatan hidup akan segera menghimpit firman itu sehingga menjadi kerdil dan tidak berbuah. Karena kekuatiran dalam hati membungkukkan orang (Amsal 12:25) dan “Dimana hartamu berada, disitu juga hatimu berada” (Luk 12:34). Tanah yang baik adalah personifikasi hati yang terbuka terhadap firman yang ditaburkan. Tanah yang baik memiliki kandungan nutrisi yang cukup bagi kehidupan benih yang ditaburkan di atasnya. Orang yang memiliki hati yang terbuka terhadap firman Allah akan menerima firman itu, menyimpannya di dalam hati yang baik dan menghasilkan buah dalam ketekunan.  Kepada setiap kita telah ditaburkan firman Allah. Hanya saja, seperti sabda Yesus dalam perumpamaan di atas, tanggapan kita terhadap firman itu berbeda-beda. Ada yang hanya sekedar menerimanya, tetapi tidak membangun pagar untuk melindunginya sehingga membuka peluang yang sangat  besar bagi si jahat untuk mencuri fiman itu darinya. Ada orang yang menerima firman itu tetapi firman itu tidak berakar karena kerasnya hati mereka. Firman itu tidak akan berpengaruh apa-apa pada kehidupan mereka karena firman itu tidak berakar. Ada orang yang menerima firman itu dan menumbuhkan iman di dalam hatinya. Tetapi ada kekuatiran di ruang hati mereka sehingga imannya terhimpit. Mereka kuatir akan banyak hal, padahal Yesus sendiri pernah bersabda, “Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang akan kamu makan, dan jangalah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai” (Luk 12:22). Mereka juga memiliki keterikatan pada harta, karena itu pertumbuhan iman mereka terhambat dan berjalan terseok-seok. Tetapi, ada juga orang yang menerima firman itu dan menyimpannya di dalam hati. Mereka ini adalah orang-orang yang paling berbahagia di dunia (Luk 11:28), saudara-saudara Tuhan (Luk 8:21).  Mereka menjadikan firman itu sebagai panduan dalam berpikir, berkata, dan bertindak, karena itu setiap orang yang berhubungan dengan mereka akan merasakan damai dan kemanisan buah firman itu. Mereka menjadikan firman itu sebagai penuntun atau pelita bagi langkahnya (Mzm 119:105), sehingga mereka tidak terantuk dan jatuh. Iman mereka kuat dan berakar di dalam hati, sehingga tidak goyah oleh apapun. Itulah orang-orang ‘kuat’, sebagaimana tiga nelayan sederhana dalam ilustrasi di atas, yang walaupun tanpa pendampingan iman yang memadai, toh iman itu tetap mengakar di dalam hati mereka. Karena itu dalam kesederhanaannya, mereka selalu melandaskan hidup mereka pada persekutuan dengan Tritunggal Yang Mahakudus: “Kamu tiga, kami tiga; Kamu di atas, kami di bawah”. Sebuah doa sederhana yang mengungkapkan iman mereka akan daya ilahi Tiga Pribadi Ilahi. Itulah buah matang dan manis dari benih yang jatuh di tanah yang baik. Benih itu firman Allah. Firman itu telah ditaburkan ke dunia. Firman itu seperti api (Yer 23:29). Kepada para murid-Nya Yesus bersabda, “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!” (Luk 12:49). Api itu, yaitu firman Tuhan, harus menyala untuk memurnikan, seperti emas yang diuji dalam dapur api (bdk. 1Pet 1:7). Firman itu akan memurnikan setiap hati yang mendengarkan dan menyimpannya di dalam hati yang baik sehingga menghasilkan buah yang matang dan manis. Semoga.***




Be first to comment this article
RSS comments

Only registered users can write comments.
Please login or register.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.3

Last Updated ( Thursday, 09 July 2009 )
 
< Prev   Next >