Written by Nelis Mandosa at Monday, 03 August 2009 (635 hits) Namanya Piet Uskono, lelaki tua yang setiap hari menghabiskan hari-hari tuanya dengan terus menyambangi gereja. Di saku bajunya selalu terselip sebuah kapi yang sepengetahuanku merupakan salah satu dari alat-alat pertukangan. Semula aku mengira ia terlibat dalam proyek yang ada di Gereja FX Kuta. Tapi ternyata tidak. Setiap kali bertemu dengannya, lelaki tua itu selalu lebih dahulu menyapaku dengan senyumnya yang khas. Sunyum yang memamerkan sederetan giginya yang masih tersisa sebab sebagiannya telah tanggal. Dalam beberapa kali pembicaraan lepas dengan lelaki tua itu ia dengan bangga mengisahkan bagaimana perkembangan gereja FX Kuta sejak kehadirannya di Bali khususnya di Kuta. “Umurku lebih tua dari Gereja ini”, demikian ia selalu mengatakannya setiap kali aku bersua dengannya.
Bangga, itulah kesan yang aku dapatkan dari pernyataannya tersebut. Kebanggaan yang tercuat dari rasa memiliki yang begitu dalam atas Gereja yang setiap hari disambanginya. Kebanggaan yang sama pula yang mengedepan dari setiap orang yang telah berbuat sesuatu sekalipun itu kecil ataupun sedikit. Bukan saja dari seorang lelaki tua yang namanya Piet Uskono, akan tetapi dari semua orang yang telah berbakti untuk Paroki FX Kuta. Iman bertumbuh dari generasi terdahulu dan terus diwariskan kepada generasi selanjutnya. Adanya Gereja FX Kuta seperti sekarang ini, tak bisa dilepaskan korelasinya dengan bakti dari mereka semua yang telah lebih dahulu ada di tanah ini. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk merekonstruksi sebuah sejarah Paroki FX Kuta. Yang mau didresing adalah bagaimana benih iman diperjuangkan dan dipertahankan serta terus digiatkan oleh generasi-generasi awal yang dalam artian tertentu patut kita namai dengan “jemaat perdana” yang kemudian diwariskan kepada “KITA”. “JEMAAT PERDANA” Tanpa pretensi mengabaikan yang lain dari mereka semua yang telah lebih dahulu ada di tanah Kuta dan berbakti untuk paroki FX Kuta, patut disebutkan dengan penuh hormat dan bangga, para tokoh yang berdasarkan informasi lisan dari beberapa orang telah berbuat sesuatu yang meski dalam ukuran “kecil” sekalipun. Semisal, keluarga Bapak Yohanes Rande, Keluarga Bapak Dominikus Wasa, Keluarga Bapak Deru, Keluarga Tiburtius Bala Parera, Tomas Mudjanau, Ce SchÖder, Bapak Liem (Mertua dari bapak Karno) beberapa orang tentara seperti pak Alo Baun, Markus Mari, Yakobus Nunudei, Bapak Yulius Tiwu serta beberapa tokoh lain lagi yang tak dapat disebutkan satu persatu. (Maaf, bila apa yang disajikan ini tidak merangkum keseluruhan orang-orang terkait. Ini hanyalah sebuah sharing iman yang lalu direfleksikan dan kemudian diangkat ke dalam sebuah tulisan. Dan maaf pula bila ada salah penulisan nama). “Jemaat perdana” kita telah berjuang dalam situasi dan kondisi saat itu untuk menanamkan benih iman Kekatolikan di tanah Kuta. Suatu situasi yang pada saat itu mungkin saja teramat sulit untuk dilakoni. Cobalah kita bayangkan bagaimana mereka harus berjuang untuk menghayati iman mereka di tengah serba keterbatasan. Dalam sebuah pembicaraan lepas yang sekaligus merupakan sebuah sharing iman antara penulis dengan keluarga Oma Rande, anak-anaknya menuturkan bagaimana mereka pada saat itu dibawah bimbingan bapak dan ibunya, berjuang untuk mengaplikasikan iman Kekatolikan mereka. “Kondisi fisik bangunan gereja pada saat itu tidaklah seperti yang kita saksikan sekarang ini. Perihal bangunan gereja ini, dikisahkan sebagai berikut: “Bangunan Gereja pada saat itu masih sangat sederhana, terbuat dari papan. Di sekitar Gereja itu, ada orang yang menggembalakan kambingnya. Pastor yang melayani di Kuta saat itu pada generasi kami adalah Pastor Hanibal. Biasanya setiap hari Jumat atau Sabtu, Gereja itu dibersihkan oleh Bapak Tomas Mudjanau (almarhum) untuk dapat dipakai bersembayang pada hari Minggu. Pada saat itu Bapak Thomas masih bujang. Dan dialah yang bekerja keras supaya tempat itu layak dipakai sembayang pada hari Minggu”. Sebuah dedikasi yang teramat membanggakan dari seorang anak muda yang namanya Tomas Mudjanau. Dedikasi yang patut dikenang serta dijadikan teladan bagi kita generasi zaman sekarang ini. Pada zamannya generasi Bapak Yohanes Rande, transportasi tidaklah semudah seperti sekarang ini. “Pada saat itu transportasi sangat sulit. Bila hendak berangkat ke gereja, kami biasanya menggunakan sepeda dayung, melintasi bandara Ngurah Rai, lalu meliuk-liuk diantara deretan pohon kelapa yang pada saat itu tumbuh subur sepanjang Kuta. Atau bila hendak menggunakan kendaraan umum, satu-satunya alternatif adalah apa yang disebut “Praga” yang adalah mobil proyek milik Bina Marga sebab pada saat itu ada proyek Lapangan Terbang Ngurah Rai,” demikian dituturkan seorang anak Oma Rande. “Kalau mau ke gereja untuk latihan koor, dari pukul 16.00 aku sudah harus menunggu kendaraan praga tersebut di jalan. Kalau pulang dari latihan koor, aku selalu meminta bantuan kepada siapa saja yang lewat. Dan syukur, puji Tuhan, selalu saja ada orang yang mau membantu mengantar aku pulang,” seorang yang lain menambahkan. Dalam relasinya dengan masyarakat sekitar yang beragama Hindu, jemaat perdana menjalin suatu praktek hidup yang amat rukun. Praktek hidup yang demikian bukan saja berakibat pada adanya toleransi hidup beragama antara umat Hindu dengan jemaat perdana kita, akan tetapi lebih jauh jemaat ini juga dipandang dalam tata kemasyarakatan. “Kalau ada persembayangan di Pura, kami terkadang juga ikut, sehingga orang Katolik saat itu sangat dihormati oleh masyarakat Hindu, demikian juga kami sangat menghormati orang Hindu, dan Bapak selalu mengajarkan kepada kami untuk selalu hidup rukun dengan masyarakat sekitar kami”, kata seorang anak Oma Rande yang lain. Dalam konteks ini pemahaman dan wawasan berpikir jemaat perdana secara perlahan dibangun untuk tahu menghargai dan menghormati orang lain yang berbeda kepercayaan. Sementara itu dalam pembicaraan lepas dengan pak Gabriel Ola, beliau memaparkan secara rinci bagaimana perkembangan iman Katolik di tanah Kuta atau bumi Tuban (saat itu dikenal dengan stasi Tuban). Dengan gayanya yang khas ia memaparkan: “Pada awalnya dimana belum ada Gereja, orang-orang Katolik sebelum zamannya kami, kalau mau bersembayang harus ke Denpasar. Mereka biasanya menggunakan mobil proyek/praga atau mobil PS (Penerbangan Sipil) supaya bisa mengikuti misa di Denpasar. Bisa kita bayangkan bagaimana, susahnya mereka pada saat itu” kata beliau dengan mimik serius. Perihal pelayanan imam bagi stasi Tuban pada masanya beliau, ia menuturkan: “Pada waktu itu, pastor selalu berganti-ganti setiap minggu; ada Rm Boli, Rm, Subhaga, Rm,Fidelis, Rm. Giri dan beberapa pastor tamu. Pada awalnya kita belum memiliki gereja. Karena itu, misa dilakukan dari rumah ke rumah. Kemudian karena ada mes tentara yang kosong (diposisinya wisma Bayu sekarang) kita orang Katolik menggunakan tempat itu sebagai gereja. Karena tempat itu mau dipergunakan maka gereja kita berpindah lagi ke sebelah timurnya patung Ngurah Rai sekarang. Di bawah tower air, ada rumah kosong dan tempat tersebut kita jadikan sebagai gereja. Karena kosong maka sering menjadi tempat berteduhnya kambing-kambing. Setiap mau bersembayang tempat tersebut harus lebih dahulu dibersihkan. Tempat itu diurus oleh seorang polisi yang bernama pak Suyadi (yang menjadi Katolik karena istrinya). Kemudian gereja Ekumene dibangun dan umat Katolik pun pindah ke situ bergabung bersama umat protestan. Karena merasa “risih” dengan umat protestan maka akhirnya kita kembali ke wisma Bayu. Kebetulan ada 2 kamar kosong dari mes tentara yang ada di situ. Kamar itu dibongkar dan dijadikan satu. Karena mes itu mau dibongkar maka dibangunlah gereja di Betania sekarang yang menggunakan bahan papan yang diambil dari Hotel Bali Hyat atas perintah Kapten Budi. Status Tuban menjadi stasi dengan adanya gereja ini. Dan yang mengurus Gereja serta segala macam perlengkapannya adalah pak Tomas Mudjanau. Menurut saya, Bapak Tomas adalah seorang yang meski pendidikannya sangat rendah tetapi ia memiliki hati seorang malaikat. Dedikasinya luar biasa,” tutur beliau. “Bagaimana relasi antar sesama orang Katolik?” Ia berkisah, “Pada waktu itu, secara ekonomi, kemampuan kita orang Katolik masih sangat rendah meski ada orang yang lumayan cukup. Mungkin karena kita merasa senasib, maka persaudaraan antara kita sangat kuat. Kita berusaha sedapat mungkin menolong sesama kaum Katolik- ya mungkin karena jumlah kita masih sangat sedikit” FX KUTA DEWASA INI Dewasa ini FX Kuta tampil sebagai salah satu Gereja termegah di wilayah keuskupan Denpasar. Berdasarkan data paroki, pada tahun 2008 jumlah umat adalah 5146 orang. Sebuah jumlah yang fantastik. Dari segelintir orang yang kita namai “jemaat perdana”, kini FX Kuta tampil sebagai salah satu paroki dengan jumlah umat terbanyak. Secara fisik, bangunan yang semula cuma terbuat dari papan, kini hadir dengan bentuknya yang megah menjulang tinggi membelah angkasa Kuta. Semula gereja pada masa jemaat perdana kita harus berpindah dari satu tempat kosong ke satu tempat kosong lain tetapi tidak untuk masa sekarang. Dari “Kandang Kambing” FX Kuta lalu bermetamorfosis menjadi sebuah gereja megah berwajah internasional. Bila semula, jemaat perdana harus mendapatkan pelayanan dari pastor yang berasal dari Katedral Denpasar, kini FX Kuta memiliki pastor paroki sendiri lengkap dengan dewan dan komisi-komisinya. Sebuah perkembangan yang sangat membanggakan hati. Bila kita mau sedikit ber”flash back” kepada praksis iman “jemaat perdana”, nilai-nilai ini yang adalah refleksi penulis patut dikedepankan. BELAJAR DARI JEMAAT PERDANA “Jemaat perdana” kita telah memberi kesaksian kepada kita generasi zaman sekarang tentang bagaimana mereka menghayati iman Kekatolikan mereka dalam suasana yang sulit dan teramat sederhana yang kemudian hari melahirkan sebuah paroki megah berwajah internasional yang namanya paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta. “Jemaat perdana” kita telah mengajarkan kepada kita lewat praksis iman mereka yang tetap setia, tabah, ulet, rela berkorban tanpa pamrih, saling menghargai sesama umat lain yang berbeda keyakinan, saling menolong, tenggang rasa dan sederet nilai-nilai keutamaan lain yang memperkaya praksis iman mereka. Karena itu, adalah bijaksana bila kita generasi zaman sekarang yang menamakan diri warga paroki FX Kuta mau belajar dari jemaat perdana. Kemauan untuk belajar adalah juga wujud penghargaan yang tepat sasar terhadap apa yang telah diperjuangkan dan dihidupi oleh “jemaat perdana”. PENUTUP Manakala “jemaat perdana” membeberkan kepada kita generasi zaman sekarang memori buku harian mereka yang telah mereka tulis dengan cucuran keringat dan atau pula air mata dalam konstelasinya dengan bakti mereka untuk paroki FX Kuta, pertanyaannya buat kita: apa yang telah kita perbuat untuk paroki FX Kuta sebagai warga paroki dan sebagai perwujudan iman Kekatolikan kita? Kalau “jemaat perdana” telah mewariskan kepada kita praksis iman mereka, apa yang akan kita wariskan kepada generasi kita selanjutnya? Ketika FX Kuta tampil sebagai gereja diaspora dengan wajah internasional, iman model apa yang patut kita banggakan yang dikemudian hari akan menjadi sebuah ceritera indah oleh anak cucu kita?
Only registered users can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.3 |