Written by John German Seran at Tuesday, 15 September 2009 (1179 hits) Suatu ketika Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika IA sedang berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarilah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya”. Jawab Yesus kepada mereka: “Apabila kamu berdoa, katakanlah: “Bapa, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu” (Luk 11:1-2).
Doa yang diajarkan Yesus kepada para murid-Nya ini kemudian kita kenal sebagai doa BAPA KAMI. Dalam bahasa Inggris disebut ‘The Lords Prayer’, yang bisa berarti ‘Doa Tuhan’ atau ‘Doa Yang Diajarkan Tuhan’. Maka lalu doa BAPA KAMI diyakini sebagai doa yang paling sempurna, yang merangkul dan menyempurnakan segala doa. Doa ini terdiri dari beberapa bagian yang mewakili segala doa. Dalam tulisan ini kita akan merefleksikan salah satu bagiannya, berkaitan dengan tema umum kita: Kerajaan Allah. Tuhan, pertama-tama mengajak kita untuk menyapa Allah sebagai Bapa. Ia menginginkan suatu relasi yang lebih intim lagi antara manusia dengan diri-Nya. Allah, yang dalam Perjanjian Lama, dialami sebagai Allah yang jauh, sekarang hadir begitu dekat dengan manusia dalam diri Anak-Nya. Tuhan mau mengatakan kepada para murid, bahwa Perjanjian Lama telah digantikan dengan Perjanjian Baru. Maka Allah yang dulunya jauh sekarang ahrus dialami sebagai ‘BAPA’ yang dekat dengan siapa saja yang berseru kepada-Nya. Tetapi nama Bapa itu harus dikuduskan. Nama itu harus dimuliakan (bdk. Kel 20:7). Maka dalam teks paralelnya, Mat 6:9, disebutkan: “Bapa kami yang di Sorga”. Sorga adalah sesuatu yang melampaui manusia (dunia). Maka BAPA itu dekat dengan kita tetapi IA melampaui kita. Permohonan dalam Doa yang diajarkan Tuhan diawali dengan permohonan akan datangnya ‘Kerajaan Allah’. Menurut skala prioritas, Tuhan mau menunjukkan kepada para murid betapa pentingnya Kerajaan Allah. Kerajaan Allah harus didahulukan. “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Mat 6:33). Biarkanlah Allah meraja (datang, tinggal dan berkarya) di hidupmu, maka semua yang kamu butuhkan akan diberikan kepadamu. Memohon datangnya Kerajaan Allah, berarti mengundang Allah untuk hadir di dalam diri dan kehidupan kita. Konsekuensi logisnya, kita sendiri harus memberikan ruang dan waktu bagi Allah untuk mewujudkan kerajaan-Nya di dalam hidup kita. Dengan kata lain, kita sendiri harus mempersiapkan datangnya Kerajaan Allah di dalam hidup kita. Sebelum Yesus tampil, Yohanes Pembaptis mendahului-Nya untuk merintis (mempersiapkan) jalan bagi-Nya. Yohanes tampil di Padang gurun Yudea dan berseru: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat 3:1-2). Ini menjadi jelas bahwa ‘BERTOBAT’ adalah cara yang paling tepat dilakukan agar Kerajaan Allah terwujud di dalam diri kita. Penulis Injil Lukas telah mengkonkretkan pertobatan sebagai berikut: “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya dan barangsiapa yang mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian” (Luk 3:11). Inilah bentuk pertobatan yang sempurna, yaitu pertobatan yang disertai aksi, bukan hanya lewat penyesalan dan ucapan bibir belaka. Suatu model pertobatan yang juga diinginkan Tuhan (bdk. Luk 19:1-10, tentang pertobatan Zakheus). Zakheus membagi-bagikan kembali apa yang diperolehnya dengan cara yang tidak wajar kepada orang-orang yang berhak menikmatinya. Dan Tuhan menerima pertobatannya: “Hari ini juga telah terjadi keselamatan kepada rumah ini”. Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Roma, menulis: “Kerajaan Allah adalah kebenaran, damai sejahtera dan suka cita oleh Roh Kudus” (Roma 14:17). Maka ketika kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu”, pada saat itu juga kita harus bersedia menegasi (menyangkal) segala hal yang bertentangan dengan kebenaran, damai sejahtera dan suka cita. Ini berarti say no to perpecahan, kekacauan, kekerasan, penipuan, manipulasi, dan seterusnya. Singkat kata, ketika berdoa: ‘Datanglah kerajaan-Mu’, kita harus menutup diri terhadap hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran, damai sejahtera dan suka cita. Sirilus dari Yerusalem, seorang Bapak Gereja dari jaman Patristik berkata: “Hanya jiwa yang murni dapat berkata dengan penuh harapan: “Datanglah Kerajaan-Mu”. Karena itu ketika kita berdoa, “datanglah kerjaan-Mu”, kita harus yakin bahwa hati kita telah bebas dari segala dosa. Orang yang mendengarkan perkataan Paulus: “Hendaklah dosa jangan berkuasa lagi dalam tubuhmu yang fana” (Rm 6:12), orang yang tetap murni dalam perbuatan, pikiran dan pembicaraannya dapat berkata kepada Allah: “Datanglah Kerajaan-Mu”.***
Only registered users can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.3 |