Written by John German Seran at Tuesday, 15 September 2009 (423 hits) Sesudah Yohanes ditangkap, datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, katanya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertrobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:14-15). Untuk memenuhi kehendak Bapa, Kristus meresmikan Kerajaan Surga di dunia. Ia melakukan itu dengan mengumpulkan manusia di sekeliling-Nya. Perhimpunan ini disebut Gereja; ia merupakan “benih serta awal Kerajaan Allah di dunia” (LG 5)
Kristus adalah pusat dan di sekeliling-Nya dikumpulkan manusia-manusia menjadi “keluarga Allah”. IA memanggil mereka kepada-Nya melalui tutur kata, melalui tanda-tanda yang mewartakan Kerajaan Allah, dan melalui perutusan para murid. Ia menegakkan Kerajaan-Nya terutama melalui misteri Paskah: kematian-Nya di salib serta Kebangkitan-Nya yang mulia. “Dan Aku, setelah Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yoh 12:32). Demikianlah semua orang dipanggil untuk persatuan dengan Kristus. Semua orang dipanggil untuk masuk ke dalam Kerajaan, yaitu semua orang yang mau menerima sabda Yesus. “Memang Sabda Tuhan diibaratkan benih yang ditaburkan di lading (baca Markus 4:14); mereka yang mendengarkan sabda itu dengan iman dan termasuk kawanan kecil Kristus, telah menerima Kerajaan itu sendiri. Kemudian benih itu bertunas dan bertumbuh atas kekuatannya sendiri hingga waktu panen” (LG 4). Kerajaan itu milik kamum miskin dan kecil, artinya mereka yang menerimanya dengan rendah hati. Yesus diutus untuk “menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin” (Luk 4:18). Ia menyebut mereka bahagia, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surgea (Mat 5:3). Yesus mengundang para pendosa ke meja Kerajaan Allah. “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Markus 2:17). Ia mengajak mereka supaya bertobat, karena tanpa tobat orang tidak akan dapat masuk ke dalam Kerajaan. Ia menunjukkan kepada mereka perkataan dan perbuatan belaskasihan Bapa yang tidak terbatas dan kegembiraan yang luar biasa, yang aka nada di Surga karena satu orang berdosa yang bertobat (Lukas 15:7). Melalui perumpamaan, suatu bentuk pengajaran yang khas, Yesus mengajarkan supaya masuk ke dalam Kerajaan-Nya. IA mengundang ke perjamuan Kerajaan-Nya, tetapi menuntut juga keputusan yang radikal. Untuk memperoleh Kerajaan itu orang harus melepaskan segala sesuatu. Kata-kata hampa tidak mencukupi, perbuatan sangat dibutuhkan. Perumpamaan-perumpamaan tersebut seolah-olah menempatkan sebuah cermin di hadapan manusia, yang dengannya ia bisa mengerti: apakah ia menerima kata-kata itu sebagai tanah yang berbatu-batu atau sebagai tanah yang baik? Apa yang ia lakukan dengan talenta yangia terima? Yesus dan kehadiran Kerajaan Allah di dunia adalah inti dari semua perumpamaan. Orang harus masuk ke dalam Kerajaan, artinya harus menajdi murid Kristus, untuk dapat “memahami rahasia Kerajaan Surga” (Mat 11:13). Yesus mengiringi kata-kata-Nya dengan “kekuatan-kekuatan, mujizat-mujizat dan tanda-tanda” (Kis 2:22). Ini menunjukkan bahwa Kerajaan Allah hadir di dalam diri-Nya. Tanda-tanda yang dikerjakan-Nya memberi kesaksian bahwa Bapalah yang mengutus Dia. Tanda itu mengundang orang supaya percaya kepada-Nya. Dan IA memberikan kepada setiap orang yang datang kepada-Nya apa saja yang mereka minta. Dengan demikian, mujizat-mujizat memperkuat iman kepada Dia, yang melaksanakan pekerjaan Bapa-Nya: mereka memberikan kesaksian, bahwa Dia adalah Putera Allah. Dengan tanda-tanda dan mujizat-mujizat itu Yesus membebaskan orang-orang tertentu dari kemalangan duniawi: dari kelaparan, ketidakadilan, penyakit dan kematian. Namun sesungguhnya ini bukanlah tujuan utama kehadiran-Nya. Ia hadir untuk membebaskan manusia dari perhambaan terburuk, yaitu perhambaan dosa. Dosa inilah yang menghalang-halangi mereka dalam panggilannya menjadi anak-anak Allah dan membawa ke dalam aneka ragam ketergantungan. Kedatangan Kerajaan Allah adalah kekalahan kerajaan setan. “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Mat 12:28). Pengusiran setan (eksorsisme) yang dilakukan Yesus membebaskan manusia dari kekuasaan setan. Semuanya ini mendahului kemenangan Yesus yang besar atas “penguasa dunia ini” (Yoh 12:31). Kerajaan Allah secara definitive didirikan oleh salib Kristus. Sejak awal kehidupan-Nya di muka umum, Yesus memilih dua belas orang, yang disebut Rasul. Ia menyertakan mereka dalam perutusan-Nya. Ia membolehkan mereka mengambil bagian dalam otoritas-Nya dan mengutus mereka “untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang” (Luk 9:12). Mereka tetap berhubungan dengan Kerajaan Kristus, karena Kristus memimpin Gereja melalui mereka. “Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku, bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku dan kamu akan duduk di atas tahta untuk menghakimi kedua belas suku Israel” (Luk 22:29-30). Mereka diberi otoritas penuh untuk menyelenggarakan Gereja. Dan kepada pimpinan kolegium itu, yakni Petrus, diberikan kunci Kerajaan. “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kau ikat di dunia akan terikat di Surga dan apa yang kau lepaskan di dunia akan terlepas di Surga (Mat 16:19). “Kuasa kunci Kerajaan” yang diberikan kepada Petrus berarti wewenang untuk memimpin rumah Allah, yaitu Gereja. Begitulah Kristus membawa Kerajaan ke dunia dan mengundang semua orang untuk mengambil bagian di dalam-Nya. Semua orang yang berkumpul dalam Kerajaan itu disebut Gereja. Karena itu, sudah sepatutnyalah Gereja ‘mamantulkan’ Kristus kepada setiap orang yang dijumpainya. Dengan demikian maka ia bisa mengundang sebanyak mungkin orang ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Gereja adalah benih Kerajaan Allah itu sendiri. *** (sumber: Katekismus Gereja Katolik)
Only registered users can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.3 |