Written by John German Seran at Saturday, 03 October 2009 (516 hits) Awal tahun 2003, sebelum mengikrarkan kaul-kaul kebiaraan dalam Ordo Karmel tak Berkasut (OCD), Tuhan memberikan kepada kami seorang imam tua sebagai pembimbing khalwat (retret agung). Beliau adalah seorang imam Serikat Sabda Allah (SVD), yang baru saja merayakan pesta perak (25 tahun) imamatnya.
Selama satu minggu penuh beliau mempersiapkan kami, sepuluh karmelit muda, untuk menjawab panggilan Allah secara bertanggung jawab lewat pengikraran tri kaul suci: ketaatan, kemiskinan dan kemurnian. Beliau mengawali khalwat tersebut dengan sapaan ini: ”Para frater, calon-calon imam yang masih muda dan penuh semangat, ini adalah momentum yang tepat untuk memahami panggilan Allah. Ini momen pemurnian panggilan anda. Anda berada di biara ini karena anda mau menjadi imam. Anda telah menyangkal diri, melepaskan segala sesuatu yang anda miliki: orang tua, sanak saudara, sahabat-kenalan, dan mungkin kekasih anda demi tujuan ini: menjadi imam. Untuk apa anda mau menjadi imam? Untuk apa anda mau mengikrarkan kaul-kaul kebiaraan dan menyerahkan diri kepada Ordo Karmel? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang akan menuntun khalwat anda selama seminggu ini ke depan”. Setelah enam tahun berlalu, ketika membuka kembali catatan harianku, saya temukan kalimat-kalimat itu. Dan ketika hendak membuat tulisan ini saya merefleksikannya kembali dan menemukan asalan, mengapa sang pastor menyodorkan pertanyaan-pertanyaan ’menggelitik’ seperti itu. Pertama, dalam banyak kasus, panggilan hidup religius: menjadi imam, bruder dan suster, bermula dari motivasi-motivasi biasa, seperti ingin hidup enak, ingin mendapatkan status yang lebih tinggi dalam tatanan sosial, dan sebagainya. Karena itu, motivasi-motivasi awal ini perlu dimurnikan dan para calon perlu diarahkan kepada tujuan yang hakiki menajdi seorang religius. Ke dua, dalam kasus tertentu, seorang anak masuk seminari atau biara bukan atas kemauan dan kehendak bebasnya sendiri, tetapi atas dorongan dan kemauan orangtua atau situasi tertentu. Motivasi seperti inipun perlu dimurnikan. Masih dari catatan harianku bersama sang pembimbing khalwat, saya temukan satu kalimat menantang, seperti ini: ”Jika setelah permenungan dan pengolahan batin selama seminggu ini anda temukan bahwa panggilan anda bukan menjadi seorang religius, tidak ada yang bisa mempersalahkan anda bila anda memutuskan untuk tidak mengikrarkan kaul-kaul anda”. Sekilas kalimat ini mematahkan semangat. Tetapi bila direfleksikan lebih mendalamkita akan temukan bahwa kalimat ini malah memicu kita untuk memahami panggilan Allah untuk kita: ”Apa sih sebenarnya rencana Allah bagi kita? Apa sih panggilanku?” Kitab Suci mencatat beberapa kisah yang dapat kita jadikan patokan untuk memahami panggilan Allah. Pertama adalah kisah orang muda yang kaya (Mat 19:18-26; Luk 18:18-27; Mark 10:17-27). Di sana dikisahkan bagaimana seorang pemuda kaya mau mengikuti Tuhan. Ia menanyakan kepada Tuhan syarat-syarat apa saja yang harus ia penuhi untuk menjadi murid-Nya dan memperoleh hidup kekal. Tuhan menantangnya untuk melakukan perinah-perintah Allah sebagaimana tertuang dalam Kitab Suci. Pemuda itu menyanggupinya. Lalu Tuhan menantangnya untuk melepaskan segala seuatu yang dimilikinya lalu mengikuti Tuhan. Dan sang pemuda tidak sanggup. Kitab Suci mencatat bahwa ia akhirnya pergi dengan sedih karena banyak hartanya. Dalam kisah di atas terdapat semacam skema: manusia menawarkan diri – Tuhan memberikan tantangan – manusia tidak sanggup. Kisah lain yang boleh kita ambil untuk memahami panggilan Allah adalah kisah panggilan Maria (Luk 1:26-38). Lewat utusan-Nya Allah meminta Maria untuk mengandung dan melahirkan Penebus Dunia. Maria heran dan merasa mustahil karena ia belum bersuami. Tetapi allah memberikan jaminan dan jalan keluarnya, bahwa Roh Kuduslah yang akan menaungi dia. Kisah lainnya adalah panggilan para Nabi dalam Perjanjian Lama, seperti panggilan Yesaya (Yes 6). Yesaya yang sadar akan keberdosaannya, ketika ditemui utusan Tuhan, berkata: ”Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku najis bibir dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir”. Tetapi utusan Tuhan menyentuh bibirnya dengan bara api dan dengan demikian menghapuskan dan mengampuni segala dosanya. Maka ketika Tuhan bertanya: ”Siapakah yang akan Ku utus?”, dengan pasti ia menjawab, ”Ini aku, utuslah aku”. Dalam dua kisah di atas, demikian juga kisah-kisah lain, semisal panggilan Nabi Yeremia (Yer 1:4-19), terdapat satu skema: Tuhan memanggil – manusia menyampaikan keluhan dan keberatan – Tuhan memberikan jaminan dan jalan keluar. Secara teknis teologis ditandaskan bahwa panggilan Allah merupakan sebuah ’dialog katabatis-anabatis.’ Mula-mula Allah memanggil atau menawarkan karya keselamatannya kepada manusia (Katabatis). Lalu manusia dalam kebebasannya menanggapi atau menjawab tawaran Allah tersebut (anabatis). Pertanyaannya, ”Apakah Tuhan itu pilih kasih sehingga mencintai dan menerima yang lainsatu lalu menolak yang lain? Apakah tuhan begitu jahat sehingga tidak menghargai kehendak dan kemauan manusia?” Tuhan berfirman kepada Yeremia: ”Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau” (Yer 1:5). Tuhan telah menciptakan manusia dan menetapkan baginya warisan luhur yang kita sebut sebagai ’panggilan hidup’. Memang muaranya hanyasatu, yakni keselamatan manusia itu sendiri. Tetapi caranya beraneka ragam. Maka dalam Gereja dikenal berbagai macam bentuk pelayanan sesuai dengan status tiap anggotanya. Ada pelayanan sebagai kaum religius, ada pelayanan sebagai ayah dan ibu dalam keluarga. Maka Gereja itu sendiri dianalogikan sebagai tubuh yang terdiri dari banyak anggota, yang masing-masingnya memiliki fungsinya sendiri. Anggota-anggota itu tidak ada yang tidak penting. Semua penting sesuai dengan fungsinya masing-masing. Karena itu mereka saling melengkapi sehingga membentuk satu keutuhan yang harmonis yang kita sebut tubuh. Dalam alur pemikiran ini maka kita dapat memahami tantangan sang pastor supaya para frater merefleksikan kembali motivasi panggilannya, lalu memutuskan untuk mengikrarkan kaul atau tidak. Bahwa sejak semula Allah telah memanggil setiap orang kepada suatu bentuk kehidupan tertentu. Dan apapun yang ditetapkan Allah bagi setiap orang hendaknya selalu dilihat sebagai manifestasi cinta Allah kepada manusia. Karenanya, apapun bentuk penghayatan hidup yang kita pilih, hendaknya berlandaskan pada motivasi yang benar, sehingga dapat menghantar kita kepada keselamatan. Karena yang terpenting bukanlah panggilan sebagai apa, tetapi bagaimana kita menjalankan atau menghidupi panggilan itu sebagaimana adanya. Dan untuk maksud ini, tiada jalan lain selain memahami panggilan Allah bagi kita. Maka kita dituntut untuk membuka diri bagi panggilan Allah, bukan memaksakan diri bagi pangilan Allah.***
Only registered users can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.3 |