cpanel

Tips

Cara menggunakan Shout it!
Pada kolom kanan ada Shout it! Disitu kalian bisa memberikan ucapan / komentar/ salam / SHOUT buat teman yang lain. Cara menggunakannya, kalian musti register dulu. Sesaat setelah register, kalian akan menerima email konfirmasi untuk mengecek apakah benar email kalian. Setelah di setujui (approval) maka keanggotan kalian akan aktif. Silakan login memakai username dan password dan langsung SHOUT IT !! Surprised
 
» Home arrow Beranda Iman arrow Rindu Memandang-Mu, Aku Ingin Mati
Saturday, 31 July 2010
Rindu Memandang-Mu, Aku Ingin Mati PDF Print E-mail
Written by John German Seran at Thursday, 12 November 2009 (626 hits)
Manusia hidup dalam siklus waktu, yang bermula dari ’kelahiran’ dan berakhir pada ’kematian’. Dua kutub ini: kelahiran dan kematian, memiliki hubungan kausalitas (sebab-akibat). Yang lahir akan mati. Tiada manusia yang tidak dapat mati. Kendati demikian, tidak sedikit manusia takut mati. Kematian dilihat sebagai sesuatu yang menakutkan. Karena itu Gereja, melalui refleksi atas hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus, berusaha mengajak kaum beriman untuk memaknai kematian secara lain.

Kehadiran Kristus dalam sejarah manusia memberi makna baru bagi seluruh kehidupan manusia. Demikian juga kematian mendapat makna baru berkat solidaritas Kristus untuk turut merasakan kematian. Katekismus Gereja Katolik merumuskan: ”Arti kematian secara Kristen nyata dalam terang misteri Paskah, kematian dan kebangkitan Kristus, harapan kita satu-satunya. Seorang Kristen yang meninggal dalam Kristus, ”beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan’ (2 Kor 5:8) (Art. 9; No. 1681). Inilah inti iman Kristiani akan kematian. Bahwa dalam terang kabangkitan Kristus, kematian bukan lagi kebinasaan, melainkan permulaan hidup baru. Sebab maut, musuh terbesar jiwa, telah takluk di tumpuan kaki Kristus, dan tidak berkuasa lagi atas manusia yang mengimani Kristus.

 

St. Teresa Avila dan Pandangannya tentang Kematian

 

Teresa lahir di Avila, Spanyol pada tanggal 28 Maret 1515. Ayahnya bernama Alonso Sanchez de Cepeda. Ibunya Beatrice de Ahumada berasal dari keluarga bangsawan yang beriman teguh akan Kristus. Sejak kecil Teresa sudah mendapatkan pendidikan yang baik dari keluarganya. Teresa memiliki seorang kakak perempuan, 4 orang kakak laki-laki dan 6 orang adik. Ibu Beatrice adalah istri ke-2. Istri pertama Alonso telah meninggal sebelum Alonso menikah dengan Ibu Beatrice, dan melahirkan 3 orang anak. Sejak kecil Teresa sering membicarakan Tuhan bersama kakaknya yang berusia 4 tahun lebih tua, yaitu Rodrigo. Keduanya sangat akrab dan memiliki hobi membaca mengenai kehidupan Santo/Santa.

Mereka mengagumi orang-orang kudus yang untuk selamanya dapat berjumpa dengan Allah. Pada waktu berusia 7 tahun Teresa sudah berkeinginan untuk menjadi seorang martir, karena menurut anggapannya pada waktu itu, menjadi martir adalah jalan yang tercepat dan termudah menuju surga. Oleh karena itu, Teresa mengajak Rodrigo untuk pergi ke daerah orang Mur yang kafir, dengan harapan agar mereka dipenggal kepalanya sehingga menjadi martir. Akan tetapi, di tengah perjalanan menuju daerah orang Mur, mereka bertemu dengan paman mereka di perbatasan kota. Maka rencana mereka pun diurungkan oleh sang paman yang segera mengantar mereka kembali ke rumah.

Pada saat berusia 20 tahun, Teresa diterima di Biara Karmel Avila, Spanyol. Keputusan untuk memasuki biara ini begitu mantap, meskipun pada mulanya ayahnya tidak mengizinkan putri kesayangannya itu menjadi seorang biarawati. Akan tetapi, cinta Teresa bagi Tuhan tak dapat dikalahkan oleh cintanya terhadap ayah dan keluarganya.

Teresa adalah seorang reformatris yang melahirkan pembaharuan Karmel. Di tempat biara yang lama peraturan-peraturan bersifat longgar, sehingga para tamu mengalir ke biara tak kunjung henti. Teresa terlibat juga dengan para tamu itu karena Teresa cukup disukai dan dikenal. Namun, ternyata bagi Teresa semua hal itu hanyalah pemborosan waktu belaka. Doa dan persatuan dengan Tuhan lebih memikat hatinya. Teresa merasakan perlunya cara hidup yang lebih tertutup. Akhirnya setelah mengalami banyak tantangan dari berbagai pihak, akhirnya berdirilah sebuah biara yang baru. Sifat biara yang diperbaharui oleh Teresa ini kecil, miskin, tertutup, dan juga disiplin. Biara pertama didirikan tanggal 24 Agustus 1562, dan diserahkan ke dalam perlindungan St. Yosef. Selanjutnya Teresa mengelilingi seluruh Spanyol dan mendirikan biara-biara lain. Berkat keuletan Teresa dan dukungan dari Bapa Suci yang mendukung usaha pembaharuan ini, dalam dua tahun berdirilah 17 biara. Selain itu, dia juga menyediakan rumah-rumah untuk kontemplasi pribadi.

Teresa juga diberi izin oleh pimpinan biara untuk memperbaharui ordo Karmel pria. Memang pada masa itu sedang terjadi kebobrokan para imam. Rupanya Tuhan juga menghendaki pembaharuan tersebut, karena bersamaan pada waktu Teresa hendak memperbaharui ordo Karmel, ada seorang imam Karmelit muda yang sangat bersemangat untuk menjalani kehidupan Karmel yang lebih serius. Imam muda ini merasa apa yang dicita-citakan olehnya tidak ditemukan dalam ordonya. Tadinya ia bermaksud untuk pindah ke Biara Kartusia, suatu pertapaan yang amat keras, namun Tuhan mempertemukan imam muda ini dengan Teresa Avila. Imam muda ini tak lain adalah St. Yohanes dari Salib.

Selama hidupnya di biara, Teresa banyak menulis karangan, di antaranya riwayat hidupnya, Jalan Kesempurnaan, dan Puri Batin. Semuanya itu merupakan karya-karya besar yang sangat bermanfaat bagi kehidupan rohani banyak orang hingga saat ini. Selain menulis buku-buku tersebut, Teresa juga menulis puisi. Bahkan eksistensinya dalam dunia perpuisian Spanyol tidak bisa dipandang sebelah mata. Puisi-puisinya pernah ditelaah oleh kritikus besar Spanyol, seperti Angel Custodio Vega dan Viktor dela Concha.

Pada umumnya puisi-puisi Teresa berirama mistik, artinya, puisi-puisinya merupakan letupan api mistik yang tak tertahankan lagi di dalam kalbunya. Dalam tulisan ini, kita akan melihat sejenak dua puisi mistik Teresa, yang mengungkapkan pandangannya tentang  ‘kematian’. Dua puisi tersebut: Dambakan Hidup Abadi (DHA) dan Mengaduh Dalam Pembuangan (MDP), merupakan ekspresi kerinduan Teresa akan persekutuan dengan Allah. Menurutnya, cita-cita setiap manusia adalah kebahagiaan sejati: kebahagiaan tanpa akhir, yang hanya ada pada Allah. Sementara kebahagiaan yang dialami di dunia ini tidak tanpa akhir. Karena itu bergantung pada dunia ini hanyalah kesia-siaan belaka. Maka ia mengaduh: “Aku mati karena aku tidak mati” (DHA). Dunia, bagi Teresa, tidak ubahnya suatu pembuangan. Karenanya jiwa merindukan ’Tanah air’nya, yakni Surga. ”Aduh, betapa jemu hidup ini!/ Betapa kejam pembuangan ini!/ Penjara dan kurungan ini/ Yang mengungkung jiwa” (DHA). “Betapa panjang/ Perjalanan di bumi ini/Hunian yang menyakitkan/ Pembuangan yang menyedihkan/ Hidup di dunia ini/ Duka tak berkesudahan/ Sidup sejati/ Hanya di Surga didapatkan” (MDP).

Begitulah jiwa merindukan kehidupan sejati, yang akan diperolehnya ketika ia bersekutu secara istimewa dalam kemesraan bersama Allah. Dan persekutuan yang tak terceraikan lagi dengan Allah hanya mungkin diperoleh ketika kehidupan di dunia fana ini berakhir, saaat dimana jiwa telah melewati cobaan-cobaan hidup dengan sukses, saat dimana ia telah dimurnikan, saat dimana musuhnya (si iblis) tidak punya kuasa lagi atasnya. Pada saat itulah ia hidup dalam kebahagiaan dan kekudusan kekal bersama Allah. “Hidup yang sungguhan/ Turun dari atas/ sampai berakhir hidup ini/ Kematian janganlah jauh-jauh/ Dengan mati duluan/ Mungkinlah kehidupan/ Karena dengan mati/ Harapanku akan hidup/ Menjadi pasti/ Kematian lahirkan kehidupan” (DHA).

Maka tidak ada alasan bagi jiwa untuk cemas dan takut dalam menghadapi kematian tubuh: “Siapa yang  takut/ Kematian badani/ Jika karena mati/ Diperoleh nikmat maha besar?” (MDP). Sebaliknya kematian darus dihadapi dalam nada rindu akan keabadian. “O kematian yang ramah/ Bebaskan aku dari cobaan/ Pukulan lembut/ Membebaskan jiwa/ Aduhai, cintaku, betapa gembira/ Bersatu dengan Dikau/ Rindu memandang-Mu/ Aku ingin mati” (MDP). Sebab, “Malangnya hidup ini/ Pahit bagai empedu/ Jiwa tanpa hayat/ Terpisah dari Engkau/ o Allahku yang manis” (MDP). Tetapi, “Dengan mati/ Aku ingin menggapai/ Dia yang kucari” (DHA), dan “Dalam pelukan kematian/ Berakhirlah siksaan” (MDP).

 

Penutup

Teresa adalah Puteri Gereja yang, karena karunia Roh Kudus, telah menghayati dan mengamallkan inti ajaran iman kristiani dengan baik. Makna kematian Kristiani, sebagaimana diajarkan Gereja, sudah tertanam dengan baik di dalam  hidupnya. Ini terbukti, ketika masih belia, bersama saudaranya, ia melarikan diri ke negeri orang Moor, negeri dimana orang membunuh semua pendatang asing. Mereka ingin dibunuh; ingin cepat mati. Sebab mereka percaya bahwa hanya dengan mati mereka akan segera melihat Tuhan. Amat mengagumkan, bahwa dalam diri Teresa yang masih belia ini sudah berkembang pemahaman yang amat mendalam tentang suatu misteri iman: “Kematian adalah peralihan dari kehidupan di dunia ini kepada suatu hidup baru bersama Allah”.

Konsep Teresa tentang kematian ini mempengaruhi seluruh kehidupannya di kemudian hari; yang menuntunnya untuk selalu berjalan dalam kerangka kehendak Allah; dan bahwa kematian sebagai awal hidup baru bersama Allah adalah suatu kematian yang membutuhkan ‘persiapan’. Artinya, orang akan memperoleh hidup setelah mati jika hidup sebelum mati direnungkan dan dijalani dalam bingkai ‘kasih kepada Allah’, yang wujud konkretnya adalah ‘kasih kepada sesama’. Itulah makna kematian kristiani yang direnungkan, dihayati dan diwariskan Teresa kepada kita. Bahwa kematian tidak boleh menakutkan, sebab di balik kematian ada kehidupan sesungguhnya dan melaluinya kita kembali kepada Dia, dari mana kita berasal. Karena itu marilah kita menantikan saat ‘terompet kematian’ kita berbunyi dengan penuh iman, harap dan kasih, sambil berseru bersama Teresa: “Rindu memandangMU, aku ingin mati! ***

 




Be first to comment this article
RSS comments

Only registered users can write comments.
Please login or register.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.3

Last Updated ( Thursday, 12 November 2009 )
 
< Prev   Next >