Written by John German Seran at Thursday, 12 November 2009 (337 hits) Father Damian dilahirkan di Tremelo, Belgium, pada tanggal 3 Januari 1840 dengan nama Joseph De Veuster. Pada awalnya kakak tertuanya masuk ke seminari Sacred Hearts, dan ayahnya mengharapkan agar Damian yang menjalankan bisnis keluarganya tapi ternyata Damian juga masuk seminari sebagai novis pada awal 1859. Ia memilih nama “Damian.” Frater Damian seorang yang tinggi dan gagah. Tahun-tahun yang dilewatkannya dengan bekerja di pertanian keluarga telah menjadikan tubuhnya sehat dan kuat. Semua orang sayang padanya, sebab ia baik serta murah hati.
Hawaii membutuhkan lebih banyak misionaris berkarya di sana. Jadi, pada tahun 1863, serombongan imam serta frater Hati Kudus Yesus dipilih untuk diutus ke sana. Pamphile, saudara Damian, termasuk salah seorang di antara mereka. Beberapa saat menjelang keberangkatan, Pamphile terserang demam typhoid. Ia tidak lagi dapat dipertimbangkan untuk diberangkatkan ke daerah misi. Frater Damian, yang saat itu masih dalam pendidikan untuk menjadi imam, mohon agar diijinkan menggantikan tempatnya. Imam kepala mengabulkan permohonannya. Ia pulang ke rumah untuk mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya. Kemudian ia menumpang kapal dari Belgia ke Hawaii, suatu perjalanan yang memakan waktu delapan belas minggu lamanya. Frater Damian menyelesaikan pendidikannya dan ditahbiskan sebagai imam di Hawaii. Ia berkarya selama delapan tahun di tengah umatnya di tiga daerah. Ia melakukan perjalanan dengan menunggang kuda atau dengan kano (= semacam sampan). Umat menyayangi imam yang berperawakan tinggi dan murah hati ini. Damian melihat bahwa umatnya senang ikut ambil bagian dalam Misa dan ibadat. Ia menggunakan sedikit uang yang berhasil dikumpulkannya untuk membangun kapel. Ia sendiri bersama umat paroki setempat membangun kapel mereka. Bagian paling mengagumkan dalam hidup Damian akan segera dimulai. Pada saat itu pemerintahan Hawai berniat untuk menghentikan penyebaran penyakit kusta. Hal ini dilakukan dengan mengungsikan para penderitanya ke Pulau Molokai. Nama itu membuat orang bergidik ketakutan. Bagian dari pulau itu yang disebut Kalawao merupakan “kuburan hidup” bagi orang-orang kusta. Tidak banyak yang diketahui tentang penyakit kusta dan rasa ngeri terjangkiti kusta menyebabkan para penderitanya dikucilkan. Banyak di antara mereka yang hidup putus asa. Tidak ada imam, tidak ada penegak hukum di Molokai, tidak ada fasilitas kesehatan. Pemerintah Hawaii mengirimkan makanan serta obat-obatan, tetapi jumlahnya tidak mencukupi. Lagi pula tidak ada sarana yang dikoordinir untuk membagikan barang-barang tersebut. Para penderita kusta di pulau itu juga membutuhkan pelayanan rohani namun mereka tidak mendapatkannya. Sehingga Uskup Louis Maigret ss.cc melontarkan masalah ini kepada para pastor. Mendengar hal ini Pater Damian langsung merespon dan ia berangkat ke Pulau Molokai pada tanggal 10 Mei 1873. Pastor Damian terguncang hatinya melihat kemelaratan, korupsi serta keputusasaan di sana. Walau demikian, ia bertekad bahwa baginya tidak ada kata menyerah. Penduduk Molokai sungguh amat membutuhkan pertolongan. Pastor Damian pergi ke Honolulu guna berhadapan dengan anggota majelis kesehatan. Mereka mengatakan bahwa Pastor Damian tidak diijinkan pulang pergi ke Molokai demi alasan bahaya penularan kusta. Alasan sesungguhnya adalah bahwa mereka tidak menghendaki kehadirannya di Molokai. Ia akan menimbulkan banyak masalah bagi mereka. Jadi, Pastor Damian harus menetapkan pilihan: jika ia kembali ke Molokai, ia tidak akan pernah dapat meninggalkan tempat itu lagi. Para majelis kesehatan itu rupanya belum mengenal Pastor Damian. Ia memilih untuk tinggal di Molokai! Pater Damian memberikan harapan kepada para penderita itu dengan mau hidup bersama-sama dengan para kusta. Di jaman itu, seperti halnyapada jaman Yesus, para penderita kusta bisa dibilang orang buangan, dan orang yang sungguh berdosa karena dikutuk dengan adanya penyakit itu. Padahal, sebagai manusia mereka membutuhkan sahabat untuk ikut merasakan dan bisa mensharingkan apa yang mereka alami. Mereka merindukan sentuhan kasih. Mereka merasa sebagai orang berdosa yang mendambakan pelayanan dari hamba Tuhan untuk bertobat, dan juga pastinya menharapkan kesembuhan akan penyakitnya. Pater Damian terpanggil untuk hal ini. Ia harus mengalahkan segala perasaan jijik dan takut karena penyakit itu supaya bias bersentuhan dengan para ‘sahabat’- nya, dan ikut merasakan penderitaan mereka. Mulanya ia ingat pesan para seniornya untuk tidak bersentuhan dengan para penderita, tetapi akhirnya ia sadar bahwa Yesus sendiri harus menjadi sama dengan manusia supaya bisa ikut merasakan penderitaan manusia. Pater Damian pun akhirnya mengerti untuk bisa dekat dengan mereka maka dia harus bersentuhan dengan mereka, terutama anak-anak kecil yang justru sangat membutuhkan sentuhan dan kasih saying. Pastor Damian berkarya delapan belas tahun lamanya hingga wafatnya di Molokai. Dengan bantuan para penderita kusta dan para sukarelawan, Molokai mulai berubah. Kata Molokai mempunyai arti yang sama sekali baru. Pulau Molokai menjadi pulau cinta kasih Kristiani. Lama kelamaan, Pastor Damian juga terjangkit penyakit kusta. Ia wafat pada tangal 15 April 1889 dalam usia empat puluh sembilan tahun dan dimakamkan di sana. Ia dinyatakan “Beato” oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1994. Dan pada tanggal 11 Oktober 2009, Paus Benedictus XVI memimpin upacara kanonisasinya secara meriah di Vatikan. Dan sejak saat itu ia disapa Santo Damian. Ya, Santo Damian dari Molokai; Rasul dan Sahabat para penderita Kusta. Santo Damian dari Molokai, doakanlah kami.****
Only registered users can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.3 |