Written by John German Seran at Friday, 12 February 2010 (428 hits)
Rm. Maxi Un Bria, seorang imam muda Keuskupan Agung Kupang, pernah menulis sebuah buku yang diberinya judul, “MANUSIA BERPIKIR, TUHAN TERTAWA”. Buku tersebut sempat menjadi bahan perbincangan dan menimbulkan telaah dan penafsifran yang berbeda-beda. Dalam tulisan ini, dengan mengangkat judul buku tersebut, saya tidak bermaksud membuat suatu telaah baru atas isi buku tersebut, tetapi hanya untuk menghantar kita kepada permenungan atas kebesaran Allah. 
Tuhan Mahabesar, Mahakuasa, Mahaagung. Tuhan (begitu juga karya-karyaNya) begitu besar dan agung, sehingga tidak ada satu mahklukpun yang ada di bawah bumi, di atas bumi maupun di langit yang mampu menandingiNya. Pemazmur berkata: “Betapa besar pekerjaan-pekerjaan Tuhan, dan sangat dalam rancangan-rancanganNya. Orang bodoh tidak akan mengetahui, dan orang bebal tidak akan mengerti hal itu” (Mzm 92:6-7). Ini adalah sebuah realitas iman yang diamini semua agama di dunia, baik agama-agama modern maupun agama-agama asli (primitife). Bahwa semua agama mengakui adanya suatu kuasa ADIKODRATI yang tunggal, tak tertandingi, walaupun dinamai secara berbeda-beda. Kenyataan sebagaimana dikemukakan di atas menunjukkan adanya suatu pengakuan universal atas kedaulatan KUASA tunggal tersebut. Dan pengakuan ini memiliki dasar tertentu. Bahwa KUASA itu merupakan asal dan tujuan hidup manusia, juga segala ciptaan lain. Manusia dan semua ciptaan lain dijadikan oleh DIA, dipelihara oleh DIA dan pada akhirnya kembali kepada DIA. Penulis Kitab Mazmur menulis: “Betapa banyak perbuatanMu, ya Tuhan, semuanya Kau jadikan dengan kebijaksanaan. Bumi penuh dengan ciptaanMu” (Mzm 104:24). Kekaguman pemazmur ini akan menjadi kekaguman kita juga, tatkala kita menyaksikan kebesaran dan kuasa Allah, yang termanifestasi lewat karya-karyaNya. Alam semesta dengan aneka warna dan warninya. Cakrawala dengan segala kemewahannya. Manusia dengan akal budinya. Semua kiranya lebih dari cukup menjadi alasan bagi rasa kagum kita atas kebesaran Allah. Dan Rasa kagum yang lebih baik dan tepat adalah rasa syukur yang membuahkan penghargaan dan rasa hormat terhadap karya-karya agung Allah. Dengan kata lain, ketika kita mengagumi kebesaran Allah, ketika itu juga mestinya kita menaruh rasa hormat yang selayaknya terhadap karya-karya tanganNya. Sejak awal penciptaan, manusia sebagai mahkota ciptaan diberi kuasa untuk mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah. Manusia diberi mandat untuk (atas nama Allah) menguasai dan menyelenggarakan alam semesta berikut segala isinya. Untuk maksud ini maka Allah melengkapi manusia itu dengan akal budi. Maka terjadilah demikian. Manusia adalah ‘penguasa’ atas alam semesta beserta segala isinya. Tetapi ketika manusia itu mulai ‘berpikir’, ketika itu juga timbul di dalam hatinya ketidakpuasan hanya menjadi ‘penguasa’. Ia ingin menjadi ‘PENGUASA’. Maka dengan rayuan ular, terciptalah dosa. Ini ekspresi rasa kagum yang salah. Manusia kagum pada ‘buah’ yang nampaknya enak dimakan. Sayangnya, rasa kagum ini tidak dibarengi dengan rasa syukur, tetapi dengan rasa curiga. Manusia curiga terhadap larangan Allah untuk memakan buah tersebut. Ia mulai berpikir bahwa Allah menyembunyian sesuatu dari dia. Maka ia merusak Eden. Ia mengoyakkan Firdaus dan mencerai-beraikan keharmonisan yang mestinya dipeliharanya (atas nama Allah). Kekaguman pada diri sendiri (baca: egoisme dan kecongkakan) rupanya lebih besar daripada kekaguman pada Allah dan karya-karya tanganNya yang besar dan dasyat. Manusia lebih memilih untuk berpikir tentang dirinya sendiri ketimbang memikirkan dunia dan sesama ciptaan lain. Akibatnya bisa kita nikmati sekarang. Keharmonisan Firdaus yang hilang oleh ulah nenek moyang kita, tidak pernah kita dapatkan kembali. Alam tidak menemukan lagi ritme perputarannya yang lazim. Maka terjadi kemarau panjang, curah hujan yang kurang, dan sebagainya, yang berbuntut pada gagal panen. Bumi telah kehilangan keseimbangan roda perputarannya. Maka terjadilah aneka bencana: longsor, banjir. Manusia lalu mulai berpikir, mencari sebab dan solusi. Ilmu pengetahuan dan teknologi (buah pikiran manusia) dikerahkan untuk mengatasi ke-khaos-an (kekacauan) yang ditimbulkannya. Aneh dan lucunya, semakin tinggi ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan manusia, semakin besar pula kekacauan yang ditimbulkannya. Pertanyaannya, masih relevankah pikiran manusia? Pikiran model apakah yang mestinya dikembangkan manusia? Berpikir adalah kegiatan yang menjelaskan eksistensi manusia sebagai mahkota ciptaan. Hanya manusia yang bisa berpikir. Karena itu sejak awal hingga sekarang dan sampai kapanpun manusia harus selalu berpikir. Karena ketika manusia itu berhenti berpikir, ketika itu juga ia kehilangan eksistensinya sebagai manusia. Dan lagi, ‘berpikir’ tentang ciptaan lain memang merupakan tanggung jawabnya sebagai mahkota segala ciptaan. “Penuhilah bumi dan taklukkanlah itu” (Kej 1:28). Hanya saja ceriteranya menjadi lain, ketika pikiran manusia itu mulai diracuni egoism. Manusia lalu berubah menjadi ‘akusntris’. Dan pikirannyapun mengarah hanya kepada si ‘aku’. Rantai keseimbangan alam diputuskannya. Maka ketika ‘dia berpikir, DIA tertawa’. Ilmu pengetahuan yang dikembangkannya, yang seharusnya mengarah kepada kehidupan yang lebih baik, justru berbelok arah menjadi monster yang malah menghancurkan kehidupan itu sendiri. Mengapa? Sekali lagi, penyebabnya tak lain adalah egoism dan keangkuhan manusia itu sendiri. Tidak peduli yang lain mati. asalkan aku hidup. Menghancurkan yang lain tidak menjadi soal, asalkan aku selamat. Inilah cara berpikir keliru yang mestinya tidak boleh ada, lelucon yang tidak lucu, yang sudah saatnya ditinggalkan, ketika kehancuran mulai menggerogoti kehidupan ini. Karena ketika kita masih berpikir seperti ini, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita agung-agungkan justru menjadi boomerang. Maka kita berpikir, Tuhan tertawa.****
Only registered users can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.3 |