Written by John German Seran at Friday, 12 February 2010 (330 hits) perjalanan kita? Mau kemana kita? Apa yang diperlukan sebagai bekal perjalanan atau perutusan? Tugas perutusan Gereja adalah menghadirkan dan meneruskan karya Kristus, karya kerajaan Allah (lih GS 5) yang berarti mewartakan Kabar Gembira. Karya Gereja, dengan demikian adalah karya Kristus yang mengutus: ”Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Mt 28:19) agar semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1 Tim2:4). Perutusan ini memiliki dimensi kemuridan dan relasi. Perutusan kemuridan terurai dalam dimensi ketaatan. Apakah aku taat kepada Gereja dan gembala-gembalanya? Hal ini berlaku bagi Klerus dan awam. Bagaimana perlakuan kita kepada para gembala kita. Apakah meragukan kegembalaannya, sehingga melecehkannya dan menganggap gembala tidak ada? Atau mendukungnya sehingga gembala berusaha untuk belajar menggembalakan domba-domba dan umatnya. ”Kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh 13:35).
Awal Penciptaan Pada awal mula, Allah menciptakan dunia dengan segala isinya dan terakhir Allah menciptakan manusia (Adam) yang penuh berkat dan rahmat kekudusan. Karena rahmat pengudusan ini Adam tinggal di Taman Eden. Lalu Allah mengambil dari tulang rusuk Adam sehingga hadirlah yang setara dan sepadan dengan Adam; maka jadilah lelaki dan perempuan. Hidup mereka terjamin dan penuh sukacita dan kebahagiaan. Namun pada kurun waktu tertentu manusia tergoda. Manusia memberontak terhadap Allah karena ia ingin sama dengan Allah. Inilah dosa awal manusia. Sebagai konsekuensinya manusia harus meninggalkan taman Eden dan hidup di bumi yang penuh dengan perjuangan, kepahitan dan kesulitan. Namun Allah tetap memberikan berkat dan rahmatNya sehingga manusia diharapkan dapat berbenah diri. Adam-Hawa yang menyatu dalam keluarga melahirkan generasi penerus sampai saat ini, sehingga setiap ayah-ibu yang dikaruniai anak akan membawa hal-hal positif maupun negatif dalam diri mereka. Dosa akan selalu menggoncang kehidupan manusia. Dalam sejarah manusia dosa itu hadir. Demikian pula dosa hadir dalam kehidupan berkeluarga sehingga perlu penanganan serius tentang kebiasaan buruk ini. Peranan orangtua dalam penyadaran akan nilai baik-buruk ; salah-benar; dosa kecil-dosa berat perlu mendapat perhatian dalam proses pendidikan anak. Anak-anak harus tahu apakah dosa itu? Setiap perbuatan yang menentang kasih Allah itulah dosa. Pelanggaran kasih merupakan pengrusakan relasi antara Allah dan manusia yang berdampak kepada sesama. Karena manusia kebal, maka ia tidak dapat melihat dengan nyata dan jeli arti dosa bagi dirinya. Ia tidak sadar akan arti penolakan Allah dan pemberontakan terhadapNya melalui pikiran dan perbuatan kita. Maka hanya melalui terang wahyu ilahi orang melihat: apa dosa itu, terutama dosa asal. Dosa adalah penyalahgunaan kebebasan, yang Allah berikan kepada manusia, citra Allah yang berakalbudi, agar manusia mencintaiNya dan mencintai satu sama lain. (bdk 1 Yoh 1:8) Untuk melestarikan nilai-nilai kasih dalam keluarga maka Allah memberikan tugas mulia kepada orangtua. Tugas untuk memberikan pendidikan berakar dalam panggilan utama orang-orang yang menikah untuk mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah: dengan memperanakkan dalam kasih dan untuk kasih seorang pribadi baru yang di dalam dirinya mempunyai panggilan untuk tumbuh dan berkembang, orangtua justru oleh karena kenyataan itu mengemban tugas kewajiban untuk membantu agar pribadi itu sungguh-sungguh mampu hidup sepenuhnya sebagai manusia. Maka orangtua harus diakui sebagai pendidik yang pertama dan terutama bagi anak-anak mereka. Peranan mereka sebagai pendidik sedemikian menentukan sehingga hampir tidak ada suatu apa pun yang dapat mengganti bila mereka gagal menunaikan tugas itu. Menjadi kewajiban orangtualah menciptakan suasana keluarga yang sedemikian dijiwai oleh cinta kasih dan sikap hormat kepada Allah dan berusaha untuk menghilangkan dosa dan kebiasaan buruk. Dan orang-orang lain sehingga perkembangan pribadi dan sosial yang utuh dapat dipupuk di antara anak-anak. Maka keluarga adalah sekolah pertama demi keutamaan-keutamaan sosial yang dibutuhkan oleh setiap masyarakat. Hak dan kewajiban orangtua memberikan pendidikan adalah hal yang essensial, sebab berhubungan dengan hal meneruskan hidup manusia; adalah hal yang asli dan utama bila dibandingkan dengan peranan mendidik yang diemban oleh orang-orang lain, sebab hubungan penuh kasih antara orangtua dan anak-anak bersifat khas; dan adalah hal yang tak tergantikan serta tak teralihkan, dan dengan demikian tidak dapat dilimpahkan seluruhnya kepada orang-orang lain atau diambil alih oleh orang-orang lain. Hal lain yang tidak boleh terlupakan dalam pendidikan anak adalah cintakasih orang tua, yang akan terpenuhi dalam tugas mendidik sebagai sumber hidup dan sekaligus asas penjiwa dan norma yang mengilhami dan membimbing seluruh kegiatan konkret pendidikan, dengan memperhatikan juga nilai-nilai lemah lembut dan bijaksana. Pendidikan spiritual dalam keluarga akan mewarnai setiap anak. Bila orangtua membiasakan diri berdoa bersama, maka anak-anak pun akan melanjutkan kebiasaan yang positif ini dalam kehidupan mereka kelak baik sebagai orang yang berkeluarga atau menjadi imam atau biarawan-wati nantinya. Doa keluarga memiliki sifat-sifat khasnya sendiri. Doa keluarga adalah doa yang dipersembahkan bersama suami-istri-anak. Persatuan dalam doa merupakan konsekuensi maupun tuntutan demi persatuan yang diberikan oleh sakramen Baptis dan sakramen Perkawinan. Jika dua orang dari antaramu di dunia ini sepakat meminta apa pun, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh BapaKu di sorga. Sebab di tempat dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di sana Aku ada di tengah-tengah mereka (Mt 18:19-20) Teladan konkrit dan kesaksian hidup orangtua sungguh mendasarkan dan tak tergantikan dalam mendidik anak-anak mereka untuk berdoa. Hanya dengan berdoa bersama dengan anak-anak mereka dapatlah seorang ayah dan seorang ibu – dalam menunaikan imamat rajawi mereka – masuk ke dalam lubuk hati terdalam anak-anak mereka dan memberikan kesan yang tidak akan dapat dihapuskan oleh peristiwa-peristiwa dalam hidup mereka pada selanjutnya. Paus Paulus VI pernah berkata: ”Ibu-ibu apakah Anda mengajarkan kepada anak-anak Anda doa-doa Kristiani? Apakah Anda mempersiapkan mereka, bersama dengan Imam-Imam, untuk menerima sakramen-sakreman pada masa muda mereka, yakni: Pengakuan Dosa, Komuni, dan Penguatan? Bila mereka sakit, apakah Anda mendorong mereka untuk mengingat Kristus yang menderita, untuk memohon pertolongan Santa Perawan Maria dan orang-orang kudus? Apakah anda berdoa Rosario bersama: Dan Anda semua, bapak-bapak, berdoakah Anda bersama dengan anak-anak Anda, dengan seluruh persekutuan rumahtangga, sekurang-kurangnya kadang-kadang? Teladan Anda untuk jujur dan tulus berpikir dan bertindak, digabung dengan doa bersama, merupakan pelajaran untuk hidup, tindakan bersembah sujud yang istimewa nilainya. Dengan cara itu Anda mendatangkan kedamaian pada rumah Anda: Pax hui domui. Ingatlah, dengan cara itulah Anda membangun Gereja dan anak-anak Anda.
GEREJA: KEGEMBIRAAN DAN HARAPAN Ketika Yesus mengundang para murid untuk bergabung menjadi murid-Nya, Yesus sudah mempunyai visi tentang Kerajaan Allah. Untuk menguraikan tentang Kerajaan Allah, Yesus memulai dengan doa dan karya-Nya yang diisi dengan berbagai penyembuhan, penjadian orang; penyadaran akan kasih Allah; mengajar mereka berdoa dan belajar berjuang melawan nilai-nilai yang menghancurkan kehidupan. Yesus pun menceriterakannya dengan menggunakan perumpamaan, misalnya tentang seorang Penabur (Mt 13:1-23); tentang lalang di antara gandum (Mt 13:24-30; 36-43); biji sesawi dan ragi (Mt 13:31-35); harta terpendam dan mutiara yang berharga (Mt 13:44-45) dan pukat (Mt 13:47-52). Perumpamaan yang dibuat Yesus dimaksudkan untuk mempermudah penerapan tentang Kerajaan Allah. Kerajaan Allah digambarkan sebagai suatu proses kebaikan Allah yang terus menerus. Proses ini ditujukan bagi semua orang yang telah dipilih-Nya, dikukuhkan dan dikuduskan-Nya. Perumpamaan Yesus sebenarnya menguraikan kehidupan kita. Seorang Penabur yang menaburkan benih adalah Allah. Manusia adalah jenis tanah. Maka pertumbuhan juga amat tergantung kepada kebebasan manusia. Dikatakan bahwa sebagian benih jatuh di pinggir jalan sehingga dimakan burung. Hal ini berarti manusia acuh tak acuh kepada Tuhan. Sebagian benih jatuh di tanah berbatu sehingga hidup sebentar dan kemudian layu dan mati. Gambaran ini berkaitan dengan sikap kita yang acuh tak acuh tidak mengerti tata nilai kehidupan; merasa diri hebat tetapi tidak punya apa-apa sehingga rapuh dalam menghadapi kesulitan. Sebagian benih jatuh di semak, ia hidup namun sejenak saja karena terhimpit semak belukar. Kesombongan manusia menghimpit kasih karunia Allah sehingga tidak berbuah. Sebagian lagi jatuh di tanah subur sehingga ia berdaun, berbunga, berbuah berlipat-lipat. Inilah orang beriman yang seimbang; punya rasa terima kasih kepada Tuhan dalam setiap situasi; tahu menempatkan diri sehingga selalu ingin memberi yang terbaik kepada Tuhan. Tanah jenis keempat adalah tanah yang menjanjikan dan didambakan setiap orang. Maka melalui perumpamaan ini kita harusnya sadar bahwa kita jatuh di tanah yang subur. Tanah yang subur itu adalah Gereja yang didirikan oleh para Rasul. Kelahiran Gereja pada Hari Raya Pentakosta mempunyai dasar yang kuat akan makna kebangkitan Yesus. Iman ini tumbuh dalam harapan dan kasih sehingga gereja perlahan tumbuh dan berkembang. Gereja yang dinaungi oleh Roh Kudus tersebut hidup dan tumbuh mengarungi jaman. Gereja ada dalam dan di tengah perjalanan sebagai pejiarah. Sebagai peziarah, gereja bergumul dalam suka duka, baik buruk, benar salah sehingga gereja berwajah ‘gaudeum et spes – gembira dan penuh harapan. Dalam perjalanan waktu kita belajar melalui sejarah bahwa Gereja hadir melalui perbedaan kultur, bahasa, cara pandang, juga persoalan kepentingan politik ikut memengaruhi kehidupan Gereja sehingga hadir perpecahan. Dalam situasi ini Gereja merasa terasing. Namun bila merefleksi kembali kehadiran Roh Kudus dalam Gereja, kita patut bersyukur atas kasih karunia Tuhan akan pertumbuhan Gereja di tengah badai dan gelombang yang datang silih berganti. Kasih Tuhan memberi pertumbuhan. Kasih Tuhan yang memberi pertumbuhan ini hadir di tengah-tengah kita melalui unit terkecil yaitu keluarga. Keluarga yang dikumpulkan dalam batas teritorial melahirkan Komunitas Basis Gerejani dan Paroki. Paroki merupakan persaudaraan umat gerejani dengan imam sebagai gembalanya, dimana Gembala Utama adalah Uskup dalam Keuskupan. Karena Uskup tidak dapat memimpin seluruh umat maka Uskup membentuk paroki dan menunjuk imam sebagai pembantunya untuk menggembalakan umat keuskupannya. Kenyataannya, Uskup lebih banyak berkarya dalam tataran umum, visi dan misi; sedangkan pelaksanaan serta perwujudan praktisnya lebih banyak ditentukan oleh reka pastoral di paroki, terlebih oleh kebijakan Pastor Parokinya. Sehingga gereja lebih banyak dipengaruhi oleh bagaimana Pastor dan Dewan Paroki menjalankan serta membangun kehidupan menggereja di parokinya. Paroki merupakan wujud paling nyata kehadiran serta realitas Gereja semesta. Realitas hidup bersama dalam lingkup yang berdekatan merupakan kenyataan paling konkret siapa dan bagaimana hidup, kehadiran, pelayanan serta kesaksian Gereja sebagai umat Allah. Maka, paroki adalah umat yang berkumpul karena disatukan oleh Roh yang satu dan sama, yang tumbuh sebagai saksi Kristus sehingga mempunyai daya pikat dan tumbuh sebagai sakramen keselamatan Allah melalui bagaimana setiap anggota gereja mempunyai andil dan upaya untuk melestarikan gereja. Paroki bukan milik pastor semata-mata namun juga milik keluarga Allah: awam dan klerus. Maka sebagai gereja kita perlu memahami apa arti pejiarahan atau Perutusan relasional terurai dalam bagaimana relasi antara gembala dan umat dan sebaliknya. Bagaimana sikap pastor kepada umatnya? Apakah pilih kasih? Demikian pula bagaimana sikap domba kepada gembala? Apakah hanya lip-service dan basa-basi saja? Hal ini dapat kita lihat dalam kehidupan paroki secara nyata kalau pastor dicintai. Kadang kita hanya melihat segala kehidupan ini dari sisi kehendak sendiri tanpa mau merefleksikan diri bahwa mencari seorang gembala saat ini makin langka. Tidak banyak orang yang ingin menjadi imam, menuntut imam lebih mudah; kalau disuruh menuntun imam tak punya waktu. Kalau semua umat mempunyai sikap seperti ini membahayakan kehidupan gereja. Maka marilah kita bersyukur atas keberadaan gembala, makhluk yang langka ini. Jadikan dia pada posisi sebenarnya sebagai gembala, bukan untuk didikte tetapi untuk bekerja sama dalam membangun Kerajaan Allah, sehingga kehadiran seorang imam dalam sebuah paroki memberikan kegembiraan dan harapan. Mari kita mendoakan para imam yang telah dengan segala kekurangannya hadir dalam penggembalaannya; terlebih dalam mengisi tahun Imam ini.*** (Kuta, 31 Januari 2010).
Only registered users can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.3 |
|
Last Updated ( Friday, 12 February 2010 )
|
|
|
Our Sponsor |
|
|
Who's Online |
|
We have 68 guests online |
|