cpanel

Tips

Cara menggunakan Shout it!
Pada kolom kanan ada Shout it! Disitu kalian bisa memberikan ucapan / komentar/ salam / SHOUT buat teman yang lain. Cara menggunakannya, kalian musti register dulu. Sesaat setelah register, kalian akan menerima email konfirmasi untuk mengecek apakah benar email kalian. Setelah di setujui (approval) maka keanggotan kalian akan aktif. Silakan login memakai username dan password dan langsung SHOUT IT !! Surprised
 
» Home arrow Beranda Iman arrow AKU TELAH BERDOSA....
Monday, 06 February 2012
AKU TELAH BERDOSA.... PDF Print E-mail
Written by John German Seran at Thursday, 18 March 2010 (1426 hits)
Seorang bapak kerap bertengkar dengan isterinya. Pasalnya, sang bapak selalu ‘salah sambung’ bila diajak bicara. Kepala yang ditanya, kaki yang dijawab. Bila dia yang menanyakan sesuatu maka akan marah-marah karena menyangka pertanyaannya tidak dijawab, meskipun sudah dijawab berkali-kali. Suatu ketika, sang isteri berpendapat bahwa gangguan pendengaran si bapak harus diobati. Parahnya, si bapak sendiri berpendapat bahwa dia tidak tuli. Dia ngotot dan marah-marah. “Siapa yang bilang saya tuli? Kamu yang tuli. Ditanya tidak pernah menjawab. Diajak bicara tak pernah nyambung”, katanya kepada sang isteri.

Si bapak dalam kisah di atas tidaksadar diri. Ia tidak sadar akan kondisi dirinya yang sedang sakit. Ia tuli, tetapi tidak menyadari ketuliannya. Ia tidak bisa mendengar apa-apa, tapi malah menuduh isterinya yang tidak mendengarkan apa-apa. Ini berbanding terbalik dengan ceritera Lukas (15:11-32) tentang ‘anak yang hilang’. Di sana dikisahkan tentang si bungsu menderita kanker alias kantong kering setelah menghambur-hamburkan harta warisannya. Berbeda dengan sang bapak dalam kisah pertama, si anak hilang dalam kisah Lukas, sadar akan kesakitannya. “Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapakku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku disini mati kelaparan” (Luk 15:17). Kesadaran ini kemudian menghantar dia kepada nostalgia indah di rumah bapaknya. Ia mau kembali. Tetapi apakah dia berani, karena telah menghambur-hamburkan harta bapaknya? Dengan cara apa ia akan kembali?

Sederhana saja. Ia hanya membutuhkan secuil kerendahan hati. “Aku akan bangkit dan pergi kepada bapakku dan berkata kepadanya: Bapak, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapak, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapak; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapak” (Luk 15:18-19). Inilah bentuk kesadaran diri si anak hilang. Ia kembali ke rumah bapaknya dengan secuil kerendahan hatinya, dan ketika berjumpa dengan kebesaran hati sang bapak, terjadilah di sana suatu kesembuhan. Ia tidak lagi ‘kanker’, karena kepadanya, sang bapak mengenakan jubah terbaik, cincin dan sepatu terindah, disembelihkan lembuh tambun dan diselenggarakan pesta sukacita. Kesadarannya, yang dibumbui dengan kerendahan hatinya, berbuahkan kesembuhan (pengampunan).

Dalam lembaran-lembaran lain Kitab Suci, sebut saja 2 Samuel 11-12, pun dapat kita temukan kisah lain yang serupa dengan kisah Lukas. Raja Daud, orang urapan Tuhan, jatuh ke dalam dosa menjijikkan. Ia melakukan  sesuatu yang jahat di mata Tuhan. Ia mengambil isteri seorang prajuritnya dan melenyapkan prajurit, yang tanpa prasangka apa-apa, rela menyerahkan nyawa baginya. Karena itu Tuhan merancangkan pembalasan yang setimpal baginya: “Bahwasanya malapetaka akan kutimpakan ke atasmu yang dating dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan  memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari. Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi AKU akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan” (2 Sam 12:11-12).

Tetapi sama seperti si anak hilang, Daud sadar akan kesakitannya. Kesadaran itu lalu melahirkan sebuah kerendahan hati, yang akhirnya memaksa dia untuk merebahkan diri di hadapan TUHAN: “Aku sudah berdosa terhadap Tuhan” (2 Sam 12:13). Dan kesadaran diri yang dibumbui kerendahan hati ini berbuahkan pengampunan dan berkat. Dari isteri Uria itulah lahir keturunan Daud yang kelak menggantikannya sebagai raja, yakni Salomo.

 Kesakitan (keberdosaan) adalah kondisi hidup yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia dari segala jaman dan tempat. Dimanapun di kolong langit ini, sejak dahulu hingga kini, manusia selalu dan selalu jatuh ke dalam situasi ini. Sakit dan sakit (dosa dan dosa). Tak ada seorangpun yang bisa menepuk dada lantas berkata: “aku tidak sakit (berdosa)”. Dan tak ada seorangpun yang mempersalahkan kita karena kita berdosa. Tuhanpun tidak. Tuhan tidak membenci orang berdosa. Yang dibenci Tuhan adalah orang yang tidak sadar akan kesakitan (keberdosaannya). Tuhan jelas membenci sikap seperti sang bapak dalam kisah pertama di atas, yang tidak sadar akan keadaan dirinya yang tuli, malah mempersalahkan orang lain. Itulah sikap yang kerap dikecam Yesus dari orang-orang Farisi, yang lebih jeli melihat selumbar di mata orang lain ketimbang balok di mata sendiri.

Setiap tahun, Gereja menyediakan sebuah kesempatan tobat (walaupun tobat tidak mengenal waktu dan tempat) bagi umatnya. Masa Prapaskah, selama empat puluh hari adalah masa tobat dimaksud. Dalam hal ini Gereja sadar bahwa dirinya merupakan perpaduan dari aneka ragam pribadi yang tidak luput dari dosa. Karena itu ia mengajak mereka untuk sadar diri,  lalu dengan rendah hati datang ke hadapan Tuhan dan berkata: “aku telah berdosa”. Ia menanamkan keyakinan dan pengharapan yang kokoh, bahwa setiap mereka yang sadar diri dan membumbui kesadaran itu dengan kerendahan hati, akan memperoleh kesembuhan (pengampunan).

Sampai  disini, kiranya jelas rana pemikirannya, bahwa semua kita, termasuk saya, adalah orang-orang sakit, anak-anak yang hilang karena menghambur-hamburkan kekayaan rahmat Tuhan untuk hal-hal yang tidak berfaedah. Kita telah jauh dari rumah Bapa. Kita melakukan hal yang jahat di mata Tuhan. Pertanyaannya, apakah kita sadar diri? Lalu bagaimana kita mengkonkretkan kesadaran diri kita? Jawabannya ada di lubuk hati kita masing-masing.***  




Be first to comment this article
RSS comments

Only registered users can write comments.
Please login or register.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.3

Last Updated ( Thursday, 18 March 2010 )
 
< Prev   Next >