cpanel

Tips

Cara menggunakan Shout it!
Pada kolom kanan ada Shout it! Disitu kalian bisa memberikan ucapan / komentar/ salam / SHOUT buat teman yang lain. Cara menggunakannya, kalian musti register dulu. Sesaat setelah register, kalian akan menerima email konfirmasi untuk mengecek apakah benar email kalian. Setelah di setujui (approval) maka keanggotan kalian akan aktif. Silakan login memakai username dan password dan langsung SHOUT IT !! Surprised
 
» Home arrow Beranda Iman arrow EKARISTI: TUHAN HADIR
Thursday, 09 September 2010
EKARISTI: TUHAN HADIR PDF Print E-mail
Written by John German Seran at Saturday, 05 June 2010 (166 hits)
Tahun 1999, ketika memulai tahun Postulat di Seminari Ordo Karmel Tak Berkasut, di Bajawa - Flores, saya tertarik pada sekelompok ibu-ibu. Usia mereka berkisar antara 60 hingga 70 tahun. Usia yang boleh dibilang tidak muda lagi. Saban pagi, ibu-ibu ini selalu menghadiri  Perayaan Ekaristi bersama para seminaris di Kapela Seminari. Suhu kota Bajawa yang dingin (kadang mencapai 8 derajat celesius) tidak menyurutkan semangat mereka. Dengan kain ikat tradisional yang menutupi seluruh tubuh dan telanjang kaki, mereka selalu mendahului para frater di Kapela.

Ketika diajak ngobrol soal iman dan pengalaman mereka terhadap Ekaristi yang selalu mereka hadiri saban pagi, setiap mereka punya pengalaman unik dan menarik. Salah seorang dari mereka mengatakan bahwa, Tubuh Tuhan yang ia sambut tiap hari ibarat obat bagi dia. Ia akan merasa sakit di sekujur tubuhnya bila  absen Misa, walau cuma sehari. Sebaliknya, penyakit apapun yang ia rasakan akan sembuh oleh Tubuh Tuhan yang ia terima ke dalam hatinya. Suatu ketika, katanya, seluruh persendiannya terasa nyilu. Sakitnya tak tertahankan. Kaki dan tangannya hampir tak bisa ia gerakkan. Ia sempat berpikir bahwa rasa sakit itu akan mengantarnya kepada kelumpuhan.


Seperti biasa ia menghadiri Misa pagi di Kapela Seminari. Tubuh Tuhan yang ia terima, tidak semua ditelannya. Ia menyisakan sedikit, yang lalu digosokkannya ke bagian-bagian yang terasa sakit. Dan percaya atau tidak, rasa sakit itu hilang begitu saja.
Ini adalah penghayatan iman pribadi. Bukan dogma. Bukan pula sebuah doktrin resmi Gereja. Tetapi ada satu hal yang mau saya katakan dari pengalaman iman ibu ini, yaitu Mujizat Ekaristi.  Memang, pengalaman ini tidak sehebat mujizat-mujizat besar lain sepanjang sejarah Gereja. Tetapi paling kurang bisa mengatakan bahwa, Ekaristi mempunyai suatu "Daya Ilahi".


Daya Ilahi itu sendiri berasal dari Tuhan yang sungguh hadir dalam dan melalui Ekaristi. Dalam Gereja Katolik diyakini apa yang disebut "Real Preasence" (Kehadiran Riil) Kristus di dalam Ekaristi. Maka dalam  Perayaan Ekaristi, ketika Imam atau Uskup mengucapkan kata-kata institusi: "Terimalah dan Makanlah, Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu" dan "Terimalah dan minumlah, inilah Piala Darah-Ku, Darah Perjanjian Baru dan Kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa", saat itu juga hosti dan anggur sungguh-sungguh mengalami transubstansiasi menjadi "Sungguh Tubuh" dan "Sungguh Darah" Kristus. Maka lalu Teologi Gereja Katolik mengajarkan bahwa Kristus sungguh hadir 'dalam' roti dan anggur. Ini tentu sangat berbeda dengan pemahaman reformasi bahwa Kristus hadir 'bersama' roti dan anggur.


Santa Teresa dari Avila, tokoh pembaharu Ordo Karmel, yang juga seorang Doktor dan Mistikus Gereja, menuliskan pengalaman mistiknya sebagai berikut: "Dalam perayaan Ekaristi, ketika roti dan anggur dikuduskan oleh Imam menjadi Tubuh dan Darah Kristus, saya melihat para Malaikat naik turun ke atas altar". Lagi-lagi, pengalaman mistik Teresa ini mengatakan kepada kita tentang kehadiran Allah yang memberikan Daya Ilahi bagi Ekaristi. Maka lalu timbul pertanyaan yang boleh menjadi penuntun bagi refleksi kita masing-masing, ketika kita menghadiri Perayaan Ekaristi, "Sejauh mana Daya Ilahi itu berpengaruh terhadap hidup saya? Bagaimana kehadiran Tuhan dalam perjamuan Ekaristi yang saya hadiri bisa membawa perubahan positif di dalam hidup saya?


Tuhan Allah itu dari kodratnya adalah Maha Baik, Maha Benar, Maha Indah, Maha  Esa. Itu kodrat-Nya. Karena itu dimana Dia hadir, dibawa-Nya serta kebaikan, keindahan, kebenaran dan keesaan-Nya. Maka lewat Ekaristi, DIA menghadirkan kepada manusia Kebaikan, kebenaraan, keindahan dan keesaan-Nya. Dengan demikian maka semua orang yang hadir dan terlibat sungguh-sungguh, artinya berpartisipasi secara aktif dan sadar dalam Ekaristi, mestinya memetik "Buah Kebaikan, Buah Kebenaran, Buah Keindahan dan Buah Keesaan" dari Ekaristi. Dan buah-buah itulah yang nantinya membawa pengaruh positif bagi hidup seseorang.


Kebaikan yang ia terima dalam Ekaristi akan memampukan dia untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga bisa menentukan dengan tepat kualitas hidup yang akan dicapainya. Kebenaran yang ia terima akan memberikan kepadanya kebijaksanaan untuk memilah mana yang benar dan mana yang salah, sehingga pada akhirnya dapat menentukan sikap dan perilaku yang benar pula. Selanjutnya keindahan akan memampukan seseorang untuk mengenal dosa, yang memang pada kodratnya bertentangan dengan keindahan.


Dengan demikian maka tampak jelas bagi kita perbedaan yang sangat menonjol antara orang yang menghadiri setiap perayaan Ekaristi dengan sungguh-sungguh (secara aktif dan sadar), dengan orang yang menghadiri Ekaristi sebagai sebuah tuntutan moral atau kewajiban agama. Sehingga Gereja selalu menganjurkan kepada setiap umatnya untuk berpartisipasi secara aktif dan sadar dalam Perayaan Ekaristi.


Partisipasi aktif dan sadar ini, tentu membutuhkan persiapan, antara lain persiapan batin, juga prsiapan-persiapan fisik penunjang, seperti dekorasi ruangangereja atau tempat Perayaan Ekaristi itu berlangsung, perabot-perabot liturgis, alat musik (bila diperlukan), dan sebagainya. Semuanya itu akan menciptakan suasana  yang memungkinkan orang untuk benar-benar merasakan dan menikmati kehadiran Tuhan dalam Perayaan Ekaristi.
Sampai disini, kita dapat menarik sebuah benang merah: Tuhan sungguh hadir dalam Ekaristi. Kehadiran-Nya memberikan Daya Ilahi yang membawa perubahan dalam hidup kita. Asalkan kita terlibat sungguh-sungguh (secara aktif dan sadar) dalam Perayaan Ekaristi. Pertanyaan yang tersisa, "Apakah selama ini saya merasakan Daya Ilahi Ekaristi?" Jawabannya  tentu bergantung pada bagaimana keterlibatan saya selama ini dalam Ekaristi". Mari kita renungkan bersama.****




Be first to comment this article
RSS comments

Only registered users can write comments.
Please login or register.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.3

Last Updated ( Saturday, 05 June 2010 )
 
< Prev   Next >