Pada kolom kanan ada Shout it! Disitu kalian bisa memberikan ucapan / komentar/ salam / SHOUT buat teman yang lain. Cara menggunakannya, kalian musti register dulu. Sesaat setelah register, kalian akan menerima email konfirmasi untuk mengecek apakah benar email kalian. Setelah di setujui (approval) maka keanggotan kalian akan aktif. Silakan login memakai username dan password dan langsung SHOUT IT !!
Written by Oleh: Romo Laurence Freeman, OSB at Tuesday, 31 October 2006 (3981 hits) Diterjemahkan oleh: Hudoyo Hupudio
Santo Paulus berkata, kita tidak tahu bagaimana harus berdoa, tetapi Roh berdoa di dalam kita (Rom 8:26). Inilah kunci untuk memahami makna sejati dari doa Kristiani. Di sini disarankan bahwa kita belajar berdoa bukan dengan mencoba berdoa, melainkan dengan menyerahkan, atau melepaskan, upaya kita. Dan, alih-alih, belajar untuk berada [learning to be].
Ini membuka jalan menuju doa hati yang lebih dalam, di mana kita dapat menemukan "cinta Tuhan membanjiri hati kita yang paling dalam melalui Roh Kudus yang diberikannya kepada kita" (Rom 6:5). Ini adalah pengalaman murni, di luar pikiran, dogma dan imajinasi. Pertanyaan yang penting ialah bagaimana kita dapat membuka seluruh diri kita kepada pengalaman cinta yang murni ini di dalam "hakikat keberadaan kita yang paling dalam" [innermost being]? Pertama-tama, marilah kita memperhatikan lagi ketiga unsur esensial dari kontemplasi. Ini menjawab pertanyaan "bagaimana" kita berdoa--kita berdoa dengan menjadi hening, diam dan sederhana.
1. HENING
Kita membutuhkan keheningan bagi kesehatan jiwa kita dan juga bagi pertumbuhan spiritual kita. Dengan adanya televisi, alat stereo dan kebisingan lalu lintas di kota-kota modern, keheningan makin lama makin sukar dialami. Tetapi keheningan sejati terletak di dalam. Sesungguhnya, bahkan ketika kita berada di tempat yang amat bising, kita bisa hening jika kita terkonsentrasi, yang berarti menyatu dengan pusat diri kita sendiri. Perhatian menghadirkan pusat keberadaan kita ke dalam kesadaran penuh. Ia membawa kita dari masa lampau dan masa depan ke saat kini, yang lembut dan penuh istirahat. Tidak ada alasan mengapa kita tidak bisa hening di jalan yang ramai, di sebuah kemacetan lalu lintas, atau ketika antri dalam barisan di sebuah supermarket. Belajar hening pada saat-saat latihan meditasi mengajar kita untuk "berdoa" sepanjang waktu. Itu mengajar kita pula untuk menggunakan setiap penundaan atau frustrasi dalam kehidupan sehari-hari sebagai suatu kesempatan, bahkan anugerah, untuk menyelam lebih dalam, untuk belajar menyimak, untuk menanti di dalam keheningan yang baru kita temukan. Keheningan berisi kebenaran. Ia menyembuhkan. Ia menenteramkan gejolak batin kita. Ia obat bagi kemarahan, kecemasan dan kepahitan yang destruktif. Di dalam keheningan kita belajar bahasa universal dari Roh. Tuhan mengucapkan kata kreatif dari dalam keheningan tanpa batas yang meresapi segala sesuatu yang kita pikirkan dan lakukan. Keheningan di dalam doa, seperti halnya di antara dua orang, adalah tanda kepercayaan dan penerimaan. Tanpa kemampuan untuk hening, kita tidak mampu mendengarkan orang lain. Pada hakikatnya, keheningan adalah tidak kurang dari pemujaan di dalam ruh dan kebenaran. Jadi, itu bukan sekadar tidak adanya kebisingan. Keheningan adalah sikap menyeluruh dari keberadaan, dari berelasi, dan keterbukaan terhadap pengetahuan timbal-balik dan saling keterlibatan, yang adalah cinta.
2. DIAM Salah satu mazmur berkata, "Diamlah dan ketahuilah bahwa Aku Tuhan" (Maz 46:10). Diam bukanlah malas atau mati. Mengenal Tuhan berarti aktif sepenuhnya. Diam adalah keseimbangan dari semua kekuatan dan energi yang banyak, yang membentuk suatu pribadi--fisik, mental dan spiritual. Seperti halnya dengan hening, diam mempunyai dimensi lahiriah dan batiniah. Diam tidak ada kaitannya dengan menahan, membendung atau menekan gerak atau tindakan. Ia adalah pemenuhan semua gerak dan tindakan. Di dalam doa kita perlu sampai pada diam secara fisik. Ini adalah langkah pertama dalam perjalanan batin kita menuju Tuhan di pusat keberadaan kita. Diam secara fisik membantu kita menyadari bahwa tubuh kita suci -- "kenisah dari Roh Kudus" (1 Kor 6:19). Sesungguhnya, sekadar belajar diam adalah langkah maju yang besar dalam jalan spiritual mana pun. Bagi banyak orang, itu merupakan langkah pertama dalam mengatasi keinginan--dorongan untuk menggaruk atau menggerakkan tubuh. Ketidaktenangan fisik kita mencerminkan bukan hanya stres dan ketegangan jasmani, tetapi juga kegelisahan dan keadaan batin yang mudah menyeleweng. Diam secara fisik mempunyai efek langsung terhadap keheningan batin kita, dan dengan demikian banyak sekali membantu dalam menghasilkan keselarasan dari tubuh, jiwa dan roh. Tetapi dimensi berikutnya dari diam bersifat batiniah. Untuk sampai pada diamnya batin adalah tantangan besar bagi doa. Bagaimana kita menggarap kegiatan pikiran yang terus-menerus aktif? Kaum Buddhis berkata bahwa pikiran mempunyai 151 proses yang berjalan pada saat bersamaan! Keinginan, impian, dan harapan-harapan besar dapat memecah belah dan mendominasi jiwa kita.
3. SEDERHANA Doa Kristiani adalah bangun ke dalam realitas bahwa kita sekarang berada di rumah dalam kerajaan Tuhan. Yesus berkata bahwa kerajaan Tuhan ada di dalam kita, dan juga bahwa kita harus menjadi seperti anak kecil, jika kita ingin masuk ke dalam kerajaan ini. "Kerajaan itu bukanlah suatu tempat, melainkan suatu pengalaman" (John Main). Sederhana tidaklah mudah. Kita terus-menerus menganalisis diri kita, perasaan-perasaan kita, motif-motif kita atau motif-motif orang lain--dan kesadaran-diri kita yang terus-menerus membuat kita amat rumit dan bingung. Tetapi Tuhan itu sederhana--cinta itu sederhana. Meditasi sederhana. Sederhana berarti menjadi diri kita sendiri [being ourselves]. Itu berarti mengatasi kesadaran-diri, analisis-diri dan penolakan-diri. Meditasi adalah praktik spiritual universal yang menuntun kita ke dalam suasana doa ini, ke dalam doa Kristus. Ia membawa kita pada hening, diam dan sederhana, dengan cara yang hening, diam dan sederhana pula. Caranya adalah mengulangi sebuah kata suci dengan setia dan penuh cinta selama berlatih meditasi. Pada dewasa ini kita menamakan kata suci itu 'mantra'. Ini jalan doa Kristiani yang amat kuno, yang telah digali kembali bagi orang Kristiani modern oleh rahib Benediktin John Main (1926 - 1982). John Main menggali kembali cara mengistirahatkan jiwa di dalam hati melalui ajaran para rahib Kristiani awal, para Bapa Gurun, terutama YohanesKasianus (abad ke-4 Masehi). Itu tradisi yang sama seperti dalam buku "The Cloud of Unknowing" yang ditulis di England pada abad ke-14. John Main mengajarkan, bahwa untuk bermeditasi Anda: 1. duduk diam dengan punggung lurus 2. menutup mata 3. mengulangi mantra di dalam hati, terus-menerus.
Pilihlah waktu dan tempat yang tenang setiap pagi dan malam dan bermeditasilah selama kira-kira 20 - 30 menit setiap kali.
Suatu mantra yang ideal adalah frasa Aramaik kuno "maranatha". Ucapkan mantra itu dalam empat sukukata yang sama panjang, dengan jelas dan terus-menerus: MA - RA - NA - THA. Ucapkan tanpa tergesa-gesa dan tanpa mengharapkan terjadi sesuatu. Simak mantra itu dengan seluruh diri Anda. Setiap kali pikiran Anda menyeleweng, dengan lembut kembalikanlah kepada mantra itu. Bersikaplah sederhana. Bersikaplah setia.
Aramaik adalah bahasa yang digunakan oleh Yesus, bahasa yang sama dari kata 'abba', yang selalu digunakannya untuk menyebut Tuhan. 'Maranatha' adalah doa Kristiani yang paling tua. Artinya "Datanglah, Tuhan," atau "Tuhan datang." Santo Paulus mengakhiri Surat Pertama kepada kaum Korinthian, dan Santo Yohanes, mengakhiri Kitab Wahyu, dengan frasa ini, yang mengungkapkan iman yang mendalam dan sederhana dari gereja awal. Makna dan bunyi kata itu keduanya penting. Tetapi sementara mengucapkan kata itu, jangan memikirkan maknanya. Mantra itu akan menuntun kita lebih dalam dari pikiran, menuju keberadaan murni [pure being]. Ia menuntun kita melalui iman. Kita mengucapkan mantra itu di dalam iman dan cinta. Menyimak mantra itu sementara kita mengucapkannya merupakan karya yang semakin mendalam dari suatu perjalanan iman. Empat aturan membantu Anda tekun berlatih: - jangan mempunyai tuntutan atau harapan apa pun - jangan menilai meditasi Anda - integrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari Anda, dengan mempraktikkannya setiap pagi dan malam - jalankan konsekuensinya dalam hidup sehari-hari, hari demi hari. Semoga bermanfaat. Puji Tuhan!
(kiriman via email : Emmy)
Comments (1)
1. 11-04-2008 00:29
syallom.saya sng skli membaca artikel ini,namun ini membuat saya bingung,knpa kita org kristen mesti harus meditasi layaknya org2 budha,dan org2 yg mempelajari tenaga dalam.
Registered
Only registered users can write comments. Please login or register.