cpanel

Tips

Cara menggunakan Shout it!
Pada kolom kanan ada Shout it! Disitu kalian bisa memberikan ucapan / komentar/ salam / SHOUT buat teman yang lain. Cara menggunakannya, kalian musti register dulu. Sesaat setelah register, kalian akan menerima email konfirmasi untuk mengecek apakah benar email kalian. Setelah di setujui (approval) maka keanggotan kalian akan aktif. Silakan login memakai username dan password dan langsung SHOUT IT !! Surprised
 
» Home arrow Beranda Iman arrow Indonesia Tanah Air Beta, Umat Allah Yang Bersekutu
Monday, 06 February 2012
Indonesia Tanah Air Beta, Umat Allah Yang Bersekutu PDF Print E-mail
Written by John German Seran at Wednesday, 04 August 2010 (1256 hits)
Belum lama ini industri perfilman Indonesia menyajikan kepada kita sebuah Film berjudul, INDONESIA TANAH AIR BETA. Film ini mengambil lokasi shooting di daerah perbatasan Indonesia-Timor Leste, dan mengangkat suatu sisi lain dari realitas perpisahan Timor Leste dari NKRI. Rasa patriotisme kita digugah. Semua yang menonton tayangan film tersebut digiring kepada dua rasa yang pada saat yang sama membara di dalam dada. Disatu pihak ada rasa cinta damai dan kerinduan akan persatuan dan kesatuan. Sementara dilain pihak ada rasa benci akan perpisahan. Sebuah perpisahan yang  pada kenyataannya tidak bisa dihindari akibat kepentingan-kepentingan yang bukan kepentingan rakyat, yang terpaksa atau dipaksa untuk menanggung akibat pahit dari perpisahan tersebut.

Jauh sebelum Film Tanah Air Beta ada, tepatnya ketika negeri ini masih berada dibawah kekang penjajahan bangsa asing, telah lahir sebuah karya seni dengan judul yang sama, "INDONESIA TANAH AIR BETA". Adalah Ismail Marzuki, yang punya inspirasi untuk menggugah rasa patriotisme bangsa yang sedang berjuang mencari kemerdekaannya. Indonesia tanah air beta, Pusaka abadi nan jaya, Indonesia sejak dulu kala, Tetap di puja-puja bangsa. Di sana tempat lahir beta, Dibuai dibesarkan bunda, Tempat berlindung di hari tua, Tempat akhir menutup mata. Begitulah seniman besar ini menggugah rasa patriotisme  bangsa ini, menumbuhkan di dalam dada putera-puteri bangsa ini semangat patriotisme: satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air, satu perjuangan, yaitu Indonesia yang merdeka lahir dan batin. Segala kepentingan pribadi dan golongan ditanggalkan. "Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh", begitulah api semangat yang berkobar di dalam dada putera-puteri bangsa ketika itu.

Alhasil, persatuan dan kesatuan yang digalang berbuah manis. Negeri yang terkekang ini akhirnya merdeka juga. Bangsa yang 'terbelakang' ini akhirnya bisa menetukan nasibnya sendiri. Penjajahan telah dihapus dari tanah bangsa ini. Tetapi perjuangan itu belum usai. Kemerdekaan lahir telah digenggam. Kemerdekaan batin adalah perjuangan panjang yang masih terus berjalan. Pertanyaannya, "Apakah semangat patriotisme itu masih ada di dalam dada kita?"

***

 

Konsili Vatikan II, yang membuka gerbang Gereja Katolik terhadap roda perkembangan dunia modern, mendefinisikan Gereja sebagai suatu 'persekutuan Umat Allah'. Pemahaman ini sekaligus meruntuhkan pemahaman sebelumnya, yang lebih menekankan sistem hierarki di dalam Gereja Katolik Roma. Kalau sebelumnya Gereja digambarkan sebagai sebuah piramide yang mengerucut pada Tahta Apostolik sebagai puncak hierarki, maka Konsili Vatikan II menggambarkan Gereja sebagai sebuah lingkaran yang merangkum seluruh Gereja sebagai satu tubuh degan satu Kepala, yaitu Kristus.

Pemahaman Gereja versi Konsili Vatikan II ini jelas membawa banyak perubahan di dalam kehidupan Gereja, terutama dalam kehidupan sosial Gereja. Ajaran cinta kasih Kristus semakin menemukan tempatnya di dalam kehidupan Gereja. Solidaritas dan belarasa antar sesama sebagai satu tubuh semakin kokoh. Bukan hanya secara material  (financial), tetapi juga saling mendukung dan menguatkan secara spiritual.

Pemahaman Gereja sebagai persekutuan umat Allah membawa dampak positif  juga dalam hal relasi umat dan para pemimpin. Kalau dalam sistem hierarki (piramida) dikenal istilah "Roma locuta causa vinita", maka Konsili Vatikan II telah membalikkannya. Maka pemimpin di dalam Gereja tidak dilihat sebagai suatu otoritas yang kaku, tetapi sebagai pelayan "Barangsiapa yang ingin menjadi pemimpin diantara kamu, hendaknya ia menjadi pelayan semuanya", pesan Kristus dalam Injil.

Pelayan dalam konteks ini adalah perendahan diri dan penyerahan diri. Seperti Kristus sendiri merendahkan diri untuk membasuh kaki para murid, merendahkan dirinya untuk taat kepada rencana agung penebusan dosa, lalu menyerahkan diri untuk menderita demi pemulihan  hubungan manusia dengan Allah, yang terputus oleh dosa.

***

 

Dalam rangka perayaan ulang tahun kemerdekaan ke-66 negeri ini, Warta FX menyodorkan kepada kita sebuah tema menarik, "Indonesiaku, Gerejaku". Disini kita diajak untuk melihat sebuah hubungan dialogal nilai-nilai positif. Disatu pihak ada semangat patriotisme atau cinta tanah air. Dilain pihak ada Kasih dan Pengorbanan tanpa batas sebagai nilai khas kekristenan. Dan diujung permenungan itu kiranya kita akan  sepakat bahwa kedua nilai ini (patriotisme dan kasih, sebagaimana diuraikan di atas) bisa menjadi sumbangsih timbal balik. Patriotisme menyokong implimentasi kasih dalam kehidupan setiap hari, dan kasih mempertebal semangat patriotisme.  Ini yang diharapkan Gereja dari putera-puterinya. Sehingga Indonesiaku sungguh menjadi Tanah Air Beta - saya tidak menjadi asing di negeri sendiri - dan Gereja sungguh merupakan umat Allah yang bersekutu. Semoga.***




Be first to comment this article
RSS comments

Only registered users can write comments.
Please login or register.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.3

Last Updated ( Wednesday, 04 August 2010 )
 
< Prev   Next >