Written by John German Seran at Monday, 01 December 2008 (913 hits) “Ini nak, ibu belikan kamu sebutir telur”, kata seorang ibu kepada anaknya. “Telur ini tidak boleh kamu makan. Biarkan dierami ayam betina tetangga kita. Nanti akan menetas dan menjadi seekor anak ayam.
Ayam itu tidak boleh kita jual atau potong. Ayam itu akan kita biarkan besar, bertelur dan menetas. Anak-anak ayam itu nanti tidak boleh kita jual. Kita akan biarkan berkembang menjadi penuh satu kandang. Ayam satu kandang itu akan kita jual dan uangnya kita belikan seekor anak babi. Babi itu kita biarkan besar, berkembang hingga penuh satu kandang. Babi satu kandang itu akan kita jual dan kita belikan seekor anak sapi. Sapi itu kita rawat hingga besar, berkembang dan menjadi satu kandang penuh. Sapi satu kandang itu akan kita jual dan kita akan menjadi kaya”. Ibu itu asyik berceritera kepada anaknya. Bahkan saking asiknya berceritera, ia tidak sadar kalau telur yang sedang dipegangnya itu jatuh dan pecah. Hari demi hari berganti, begitu cepat. Sehingga tanpa terasa kita telah berada di penghujung tahun 2008, dan sebentar lagi kita akan menginjakkan kaki di pantai 2009. Banyak harapan tentunya. Sah-sah saja. Kita boleh bermimpi, tetapi kita tidak boleh lupa untuk menjalani kenyataan yang sedang di depan mata. Kita boleh menggantungkan cita-cita setinggi langit, tetapi kita tidak boleh lupa untuk berpijak pada bumi. Kata peribahasa: “jangan mengaharapkan guntur di langit, lalu kita menumpahkan air di tempayan”. Inilah pesan kecil yang kiranya baik untuk kita bawa ketika tiba saatnya kita meninggalkan pelabuhan ‘08 untuk mengarungi samudaera ’09 dengan berbagai riak gelombang, badai dan segala tantangannya. Selamat berjuang.***
Only registered users can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.3 |
|
Last Updated ( Monday, 01 December 2008 )
|