(sumber
yesaya.indocell.net/id256.htm)
INILAH MISIONARIS AGUNG GEREJA
Latar Belakang Keluarga
Fransiskus
Xaverisus berasal dari keluarga bangsawan Juan de Jassu, dari Navarra,
Spanyol. Ayahnya adalah pejabat tinggi kerajaan. Ia, ibunya adalah
seorang ibu yang penuh cinta kepada empat anak mereka. Fransisco de
Jassu y de Javier, nama asli Fransisius Xaverius, adalah anak bungsu.
Semenjak kecil Fransiskus mengenyam pendidikan hidup rohani sehingga
tumbuh cintanya terhadap Bunda Maria dan Salib Kristus.
Sepeninggal
ayahnya, Navarra diserang Raja Ferdinand, pada tahun 1512, dan puri
Javier dihancurkan oleh Kardinal Ximenes de Cisneros, pengganti
Ferdinand. Baru pada tahun 1521, Raja Navarra yang melarikan diri
datang kembali bersama pasukan Perancis. Terjadilah perang di Benteng
Pamplona, yang menjadi titik tolak pertobatan Ignatius dari Loyola.
Dialah yang kemudian mendirikan Serikat Yesus dan menjadi sahabat
Fransisikus Xaverius dalam perjuangannya menyelamatkan jiwa-jiwa.
Sementara
itu keluarga Juan de Jassu morat-marit. Miguel dan Juan, saudara
Fransisikus Xaverius, tertawan. Tinggallah Fransiskus yang berumur lima
belas tahun beserta saudari dan ibunya, mereka menempati seperempat
dari sisa yang telah menjadi puing. Dengan tenang Fransiskus Xaverius
melanjutkan belajarnya. Tahun 1524 Miguel dan Juan kembali. Setahun
kemudian pada bulan September 1525, sewaktu berusia 19 tahun,
Fransisikus pergi ke Perancis untuk meneruskan studinya. Namun sebelum
berangkat, ia menghadap Uskup Pamplona , dengan harapan bisa menjadi
imam di Navarra setelah ia kembali dari studinya.
Mahasiswa Cemerlang Dan Ambisius
Di
Paris Fransiskus mendapat kolose yang terbaik, yaitu St. barbara. Di
asrama itu ia tinggal bersama dosen filsafatnya, Mr. Pena, dan satu
teman kuliahnya, seorang anak petani dari Savoie, yang bernama Pierre
Favre (Petrus Faber). Kedua mahasiswa ini sebaya. Hanya yang satu
bangsawan , sedangkan lainnya anak buruh tani yang semasa kecil
menggembalakan domba, yang dapat meneruskan kuliah semata-mata karena
kebaikan hati dua orang imam dari Savoie.
Pada
bulan September 1529, ketika mereka berdua duduk pada tingkat akhir
filsafat, datanglah rekan keempat, seorang veteran perang Pamplona
delapan tahun sebelumnya, yang memulai studinya pada tingkat pertama.
Ia juga seorang bangsawan. Namanya Inigo ( kelak Ignatius ).
Tahun
1530 Fransiskus meraih gelar MA, dan mulai mengajar filsafat, sementara
itu ia juga belajar ilmu teologi, karena ia ingin menjadi imam, bila
kembali ke tanah airnya. Cita-citanya ialah menjadi imam jempolan dan
terhormat . tak pernah terlintas di benak Fransiskus bahwa ia akan
menjadi imam yang sederhana dan miskin di pedesaan. Suatu hari,
mahasiswa tua, adik kelas Fransisikus yang giat belajar, berdoa dan
berbuat kesalehan bertanya: "Apa untungnya , apabila manusia memperoleh
segalanya namun kehilangan jiwanya?"
Kali
ini segala impian keduniaan Fransiskus runtuh dan seperti Petrus Faber
yang telah lebih dahulu terpikat oleh Ignatius, ia mengubah jalan
pikirannya untuk mengamdikan hidup dan ilmunya bagi pelayanan kepada
Allah dan orang miskin.
Hidup Dan Karya Baru
Bersama
Ignatius dan lima teman lain, Fransiskus mengucapkan kaul untuk hidup
murni, hidup miskin, dan untuk berziarah ke tanah suci. Itu terjadi di
kapel St Denis, Montmartre, 15 Agustus 1534. Kemudian pada tanggal 24
Juni 1537, Fransiskus ditahbiskan menjadi imam dan oleh Bapa Suci
diizinkan berziarah ke Yerusalem bersama rekan-rekan yang lain.
Kelompok ini kemudian membentuk Serikat Yesus, yang selain memeluk ke
tiga kaul tersebut juga mengikrarkan ketaatan kepada seorang dari
mereka yang menjadi pembesar.
Ketaatan
itulah yang dihayati Fransiskus tatkala ia dengan tegas menjawab
sewaktu diutus oleh Ignatius untuk menjadi misionaris di India: "Sus!
Heme aqui!" ( "Ya, inilah aku!"). Mulailah karya misioner pertama
serikat itu ke tanah asing.
Fransiskus
bertolak dari Lizabon pada bulan April 1541. Ia tiba di Goa, basis
Katolik Portugis di Asia, pada tanggal 6 Mei 1542. Ia dapatkan di sana
orang-orang Kristiani yang tidak terurus, akibat kurangnya tenaga
rohaniwan. Lagi pula mereka hidup melarat. Fransiskus tidak hanya
mengajar tentang Allah dan keselamatan, tetapi juga membantu mereka
untuk meretas belenggu kemiskinan jasmani, membebaskan diri dari
peyakit lahir batin,. Ia mengajar anak-anak agar menjadi pandai, dan
orang-orang tua agar menjadi lebih bijaksana. Didirikannya rumah sakit
dan sekolah pula.
Setelah
keadaan menjadi lebih baik, dan sementara tenaga misionaris bertambah,
dipandangnya daerah-daerah lain di sepanjang untaian sabuk kepulauan
pinggiran selatan Asia.
Dari
Goa ia berlayar ke Sailan, yang dihuni suku Parava (tempat Yohanes de
Britto menderita dan menjadi martir kelak). Pada tahun 1543 Frasiskus
kembali ke Goa untuk mengucapkan kaul terakhir dalam Serikat Yesus.
Tahun
1545 Frassiskus tiba di Malaka. Ia tinggal selama lima bulan di pusat
perdagangan Portugis. Seperti di tengah suku Tamil sebelumnya, di situ
pun ia mulai mengajar, merawat orang sakit, mendengarkan pengakuan dan
merayakan ekaristi.
Pada
bulan Januari 1546, dimulailah pelayaran ke Ambon, Ternate, Morotai di
Indonesia bagian timur. Ia mengunjungi perkampungan nelayan yang kumuh
untuk mewartakan kabar suka cita. Setelah itu ia kembali ke Malaka, dan
pada bulan Januari 1548 ia tiba di Goa.
Tempat
yang paling sulit ia datang adalah Jepang. Di sana Fransiskus harus
mencari cara untuk bisa masuk dan mengajarkan iman kristiani. Ia
berhasil membaptis ratusan orang dan mendapat tempat dalam masyarakat
Jepang. Pada bulan November 1551 ia kembali ke Malaka.
Perjalanan yang terakhir.
"Bila
iman Kristiani benar, mengapa bansa Cina tiddak juga menjadi Kristen?"
itulah pertanyaan yang mendorong Fransiskus Xaverius untuk berusaha
keras mencapai negeri Cina. Dan rupanya negeri itulah cita-citanya yang
terakhir.
Tetapi
tempat itu jauh dan sulit, dan tidak setiap perahu mau mengantarnya ke
sana , akhirnya Fransiskus hanya berhasil mendarat di pulau Sancian. Ia
tak mampu lagi mengayunkan langkah menuju ke daratan Cina.
Tanggal
21 November 1552 Fransiskus terserang sakit demam. Dan meskipun
semangatnya tetap berkobar, sakit payah melemahkan dirinya. Kini ia
hanya mampu berbaring, sambil berdoa sepanjang siang dan malam, dengan
ditunggui pembantunya yang setia, Antonio, seorang Cina yang telah
memeluk iman katolik, Fransiskus Xaverius wafat di tengah malam pada
tanggal 2 Desember 1552. Dalam seluruh karyanya ia telah membaptis
20.000 orang di Parava, 10.000 orang di Travancore, pantai barat India,
1.000 di Indonesia Timur, 600 orang di Jepang. Seandainya ia diberi
waktu lebih lama, mungkin seluruh daratan Cina yang dipintanya akan
bertobat.
Namun
rupanya Allah mempunyai rencana lain. Fransiskus wafat pada usia 46
tahun, usia yang begitu muda. Salib Kristus yang tersenyum di kapel
puri Navarra kota kelahirannya pun menitikkan air mata. Salib itulah
yang semasa kecil sangat dekat di hati Frasiskus. Tanda apakah ini?
Kesedihan karena kehilangan putera pilihan atau haru bahagia akan
ketabahan dan kesetiaan putra itu dalam memenuhi panggilannya?
(sumber : http://www.xaverindo.org/)
Only registered users can write comments.
Please login or register.